Cari Blog Ini

Kamis, 22 Maret 2012

Masyarakat Madani: Dialog Islam dan Modernitas di Indonesia

Abstrak: Masyarakat madani yang sedang dikembangkan sekarang ini mempunyai sejarah tersendiri. Di sini akan diselidiki konsep tersebut sebagai suatu bentuk dialog Islam dengan modernisasi. Selanjutnya dilihat juga posisi masyarakat dan negara dalam Islam. Masyarakat madani kadang dipahami sebagai masyarakat sipil, karena diterjemahkan dari konsep civil society yang lahir di Barat pada abad ke-18 dengan tokohnya John Locke atau Montesquieu. Sebelumnya, pada zaman Yunani Kuno sudah dikenal societies civilis, namun dengan pengertian yang identik dengan negara. Civil society dimaksudkan mencegah lahirnya pemerintahan otoriter melalui kontrol dari masyarakat. Berdasarkan projecting back theory (melihat sejarah awal Islam sebagai patokan), umat Islam menerjemahkan civil society dengan masyarakat madani, yaitu suatu masyarakat yang diciptakan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Karena ciri-ciri kehidupan yang ideal pada masa Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai proto-masyarakat modern. Hal tersebut merupakan bentuk dialog Islam dengan modernitas sesuai dengan hukum dialektika. Dialog tersebut bersifat aktif karena Barat mengembangkan konsep civil society tersebut berdasarkan sejarah awal Islam
1. Pendahuluan
Masyarakat madani sebagai terjemahan dari civil society diperkenalkan pertama kali oleh Anwar Ibrahim (ketika itu Menteri Keuangan dan Timbalan Perdana Menteri Malaysia) dalam ceramah Simposium Nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada Festival Istiqlal, 26 September 1995 (Hamim, 2000: 115). Istilah itu diterjemahkan dari bahasa Arab mujtama’ madani, yang diperkenalkan oleh Prof. Naquib Attas, seorang ahli sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia, pendiri ISTAC (Ismail, 2000:180-181). Kata “madani” berarti civil atau civilized (beradab). Madani berarti juga peradaban, sebagaimana kata Arab lainnya seperti hadlari, tsaqafi atau tamaddun. Konsep madani bagi orang Arab memang mengacu pada hal-hal yang ideal dalam kehidupan.
Munculnya konsep masyarakat madani menunjukkan intelektual muslim Melayu mampu menginterpretasikan ajaran Islam dalam kehidupan modern, persisnya mengawinkan ajaran Islam dengan konsep civil society yang lahir di Barat pada abad ke-18. Konsep masyarakat madani digunakan sebagai alternatif untuk mewujudkan good government, menggantikan bangunan Orde Baru yang menyebabkan bangsa Indonesia terpuruk dalam krisis multidimensional yang tak berkesudahan.
Perumusan konsep masyarakat madani menggunakan projecting back theory, yang berangkat dari sebuah hadits yang mengatakan “Khayr al-Qurun qarni thumma al-ladhi yalunahu thumma al-ladhi yalunahu”, yaitu dalam menetapkan ukuran baik atau buruknya perilaku harus dengan merujuk pada kejadian yang terdapat dalam khazanah sejarah masa awal Islam dan bila tidak ditemukan maka dicari pada sumber normatif al-Qur’an dan Hadits (Hamim, 2000: 115-127). Civil society yang lahir di Barat diislamkan menjadi masyarakat madani, yaitu suatu masyarakat kota Madinah bentukan Nabi Muhammad SAW. Mereka mengambil contoh dari data historis Islam yang secara kualitatif dapat dibandingkan dengan masyarakat ideal dalam konsep civil society.
Mereka melakukan penyetaraan itu untuk menunjukkan bahwa di satu sisi, Islam mempunyai kemampuan untuk diinterpretasi ulang sesuai dengan perkembangan zaman, dan di sisi lain, masyarakat kota Madinah merupakan proto-type masyarakat ideal produk Islam yang bisa dipersandingkan dengan konsep civil society. Rasanya tidaklah berlebihan kalau kita menerjemahkan civil society dengan masyarakat madani, karena kehidupan masyarakat Madinah di bawah Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip dalam civil society yang lahir di Barat. Dengan demikian, konsep masyarakat madani merupakan bentuk dialog Islam dengan modernitas (Barat). Reinterpretasi Islam terhadap perkembangan zaman bukan sesuatu yang tabu melainkan suatu keharusan dari hukum dialektika thesis-antithesis-synthesis dalam rangka menuju ke arah yang lebih baik.
Dialog dialektik Islam dan Barat bersifat aktif, karena sebelumnya Barat telah melakukan studi perbandingan dengan peradaban Islam ketika mau merumuskan civil society. Pada waktu itu, Barat sedang dalam cengkeraman pemerintahan otoriter, dan menilai sistem pemerintahan Nabi Muhammad SAW adalah sangat baik. Pengaruh Islam dalam civil society sudah dijelaskan C.G. Weeramantry dan M. Hidayatullah dalam bukunya Islamic Jurisprudence: An International Perspective, terbitan Macmillan Press (1988). Menurutnya, pemikiran John Locke dan Rousseau tentang teori kedaulatan (sovereignty) mendapatkan pengaruh dari pemikiran Islam. Locke ketika menjadi mahasiswa Oxford sangat frustasi dengan disiplinnya, dan lebih tertarik mengikuti ceramah dan kuliah Edward Pococke, profesor studi tentang Arab. Kemudian perhatian pemikiran Locke mengenai problem-problem tentang pemerintahan, kekuasaan, dan kebebasan individu.
Rousseau dalam Social Contract-nya juga tidak lepas dari pengaruh Islam. Bahkan dia secara jelas menyebut: ‘Mohamet had very sound opinions, taking care to give unity to his political system, and for as long as the form of his government endured under the caliphs who succeeded him, the government was undivided and, to that extent, good’. Sementara Montesquieu bermula dari bukunya Persian Lettters, yang kemudian diteruskan dalam buku berikutnya The Spirit of the Laws, tidak lepas dari pengaruh Islam. Tentang Montesquieu ditulis “indeed there are many specific references to the Qur’an and to the Islamic law in the writing of Montesquieu” (Azizi, 2000: 94).
2. Masyarakat Madani dan Negara
Konsep masyarakat madani tidak langsung terbentuk dalam format seperti yang dikenal sekarang ini. Bahkan konsep ini pun masih akan berkembang terus akibat dari proses pengaktualisasian yang dinamis dari konsep tersebut di lapangan. Konsep masyarakat madani memiliki rentang waktu pembentukan yang sangat panjang sebagai hasil dari akumulasi pemikiran yang akhirnya membentuk profile konsep normatif seperti yang dikenal sekarang ini (Hamim, 2000: 112-113).
Kadang, masyarakat madani dipahami sebagai masyarakat sipil, terjemahan civil society yang lahir di Barat pada abad ke-18. Hal tersebut diperkuat oleh latar belakang dimunculkannya civil society di Indonesia, sebagai kaunter terhadap dominasi ABRI (nama waktu itu untuk tentara dan polisi di Indonesia) yang menerapkan doktrin dwi fungsi, dimana ABRI memerankan tugas-tugas sipil sebagai penyelenggara lembaga-lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Hampir semua kepala pemerintahan dari pusat sampai daerah dipegang oleh ABRI. Kebencian terhadap ABRI semakin dalam ketika mereka terkooptasi oleh rezim Soeharto untuk membungkam rakyat yang kritis terhadap gaya pemerintahan yang feodal dan otoriter. Orang juga tahu kalau ABRI berada di belakang semua aksi teror dan penculikan terhadap para aktivis demokrasi (Hamim, 2000: 113).
Para intelektual Muslim menjadikan Amerika Serikat sebagai model dari bentukan civil society. Di Amerika kekuasaan negara sangat terbatas dan tidak bisa mengintervensi hak-hak individu (biasa disebut dengan small stateness), namun sangat kuat dalam bidang pelaksanaan hukum (Azizi, 2000: 87). Sedangkan di Indonesia, yang terjadi adalah sebalinya. Akibatnya, di Indonesia sering terjadi pergantian pemerintahan, karena penegakkan hukum masih lemah dan MPR/DPR mempunyai kekuasaan yang besar.
Kita boleh menjadikan Amerika sebagai model dan bukan mengekor karena perbedaan situasi dan kondisi dari kedua negara tersebut. Kita mungkin dapat belajar dari pelaksanaan hukum di sana, dan mengkoreksi posisi negara yang lemah vis-à-vis masyarakat. Islam mengembangkan prinsip keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Dalam bidang hukum pun demikian, karena negara tidak boleh tunduk kepada keinginan masyarakat yang menyimpang dari akal sehat seperti menuruti suara mayoritas yang menghendaki diperbolehkannya minuman keras.
Tidak benar jika ingin mewujudkan masyarakat madani harus memperlemah posisi eksekutif seperti yang terjadi di Amerika. Selain bertentangan dengan prinsip keseimbangan juga mengingkari sejarah masyarakat madani ciptaan Nabi Muhammad SAW yang berbentuk negara. Kesan salah tersebut terjadi karena lahirnya civil society bersamaan dengan konsep negara modern, yang bertujuan: Pertama, untuk menghindari lahirnya negara absolut yang muncul sejak abad ke-16 di Eropa. Kedua, untuk mengontrol kekuasaan negara. Atas dasar itu, perumus civil society menyusun kerangka dasar sebagai berikut (Gamble, 1988: 47-48):
…the state as an association between the members of a society rather than as the personal domain of a monarch, and furthermore as an association that is unique among all the associations in civil society because of the role it plays. Thingking of the state as an association between all members of a society means ascribing to it supreme authority to make and enforce laws –the general rules that regulate social arrangements and social relationships. If the state is accorded such a role, and if it is to be a genuine association between all members of the community, it follows that its claim to supreme authority cannot be based upon the hereditary title of a royal line, but must originate in the way in which rulers are related to the ruled.
Dengan penjelasan di atas, Gamble (1988: 54) menyimpulkan bahwa teori negara modern mencakup dua tema sentral yaitu sovereignty; dan political economy, the problem of the relationship of state power to civil society. Sedangkan, konsep civil society lebih berkait dengan tema kedua itu, yaitu:
…how government should ralate to the private, individualist world of civil society organised around commodity production, individual exchange, and money; what policies and puposes it should pursue and how the general interest should be defined. Two principal lines of thought emerged. In the first, the state came to be regarded as necessarily subordinate to civil society; in the second, it was seen as a sphere which included but also transcended civil society and countered its harmful effects. These different conceptions were later to form one of the major dividing lines in modern liberalism.
Hegel dan Rousseau (Gamble, 1988: 56) memandang negara modern lebih dari sekedar penjamin bagi berkembangnya civil society, karena negara modern didirikan atas dasar persamaan semua warga negara, maka negara tidak hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan akhir tertentu bersama, seperti penjamin aturan pasar agar setiap individu dapat mengejar keperluannya; melainkan merupakan puncak dari sistem sosial, dimana nilai tertinggi bukan pada individu melainkan pada kehidupan bersama
Adam Seligman (Azizi, 2000: 88-89) mengemukakan dua penggunaan istilah civil society dari sudut konsep sosiologi, yaitu dalam tingkatan kelembagaan (organisasi) sebagai tipe sosiologi politik dan membuat civil society sebagai suatu fenomena dalam dunia nilai dan kepercayaan. Dalam pengertian yang pertama, civil society dijadikan sebagai perwujudan suatu tipe keteraturan kelembagaan dan dijadikan jargon untuk memperkuat ide demokrasi yang mempunyai delapan karakteristik, yaitu:
(1) the freedom to form and join organizations, (2) freedom of expression, (3) the right to vote, (4) eligibility for public office, (5) the right of political leaders to compete for support and votes, (6) alternative sources of information (what we would call a free press, (7) free and fair elections, and (8) institutions for making government policies depend on votes and other expressions of preference.
Dari delapan karakteristik demokrasi yang merupakan tugas negara modern, maka kita tahu bahwa negara mempunyai tugas untuk mengembangkan masyarakat madani.
Penggunaan istilah yang kedua berkaitan dengan tinjauan filsafat yang menekankan pada nilai dan kepercayaan, sebagai pengaruh moralitas Kristen dalam peradaban modern. Moral diyakini sangat penting untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, walaupun aspek moral itu tidak ditransendenkan kepada Tuhan, dengan alasan seperti yang diyakini Montesquieu dan Tocqueville “the people can be trusted to rule themselves” (Azizi, 2000: 90). Mereka mengabaikan peran Tuhan yang dipandang sudah tidak cocok lagi untuk dunia modern. Mereka yakin agama hanya berperan sebagai masa transisi antara dunia mitos dan dunia modern.
3. Masyarakat Madani di Indonesia
Masyarakat madani sukar tumbuh dan berkembang pada rezim Orde Baru karena adanya sentralisasi kekuasaan melalui korporatisme dan birokratisasi di hampir seluruh aspek kehidupan, terutama terbentuknya organisasi-organisasi kemasyarakatan dan profesi dalam wadah tunggal, seperti MUI, KNPI, PWI, SPSI, HKTI, dan sebagainya. Organisasi-organisasi tersebut tidak memiliki kemandirian dalam pemilihan pemimpin maupun penyusunan program-programnya, sehingga mereka tidak memiliki kekuatan kontrol terhadap jalannya roda pemerintahan.
Kebijakan ini juga berlaku terhadap masyarakat politik (political societies), sehingga partai-partai politik pun tidak berdaya melakukan kontrol terhadap pemerintah dan tawar-menawar dengannya dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Hanya beberapa organisasi keagamaan yang memiliki basis sosial besar yang agak memiliki kemandirian dan kekuatan dalam mempresentasikan diri sebagai unsur dari masyarakat madani, seperti Nahdlatul Ulama (NU) yang dimotori oleh KH Abdurrahman Wahid dan Muhammadiyah dengan motor Prof. Dr. Amien Rais. Pemerintah sulit untuk melakukan intervensi dalam pemilihan pimpinan organisasi keagamaan tersebut karena mereka memiliki otoritas dalam pemahaman ajaran Islam. Pengaruh politik tokoh dan organisasi keagamaan ini bahkan lebih besar daripada partai-partai politik yang ada.
Era Reformasi yang melindas rezim Soeharto (1966-1998) dan menampilkan Wakil Presiden Habibie sebagai presiden dalam masa transisi telah mempopulerkan konsep masyarakat madani karena presiden beserta kabinetnya selalu melontarkan diskursus tentang konsep itu pada berbagai kesempatan. Bahkan, Habibie mengeluarkan Keppres No 198 Tahun 1998 tanggal 27 Februari 1999 untuk membentuk suatu lembaga dengan tugas untuk merumuskan dan mensosialisasikan konsep masyarakat madani itu. Konsep masyarakat madani dikembangkan untuk menggantikan paradigma lama yang menekankan pada stabilitas dan keamanan yang terbukti sudah tidak cocok lagi. Soeharto terpaksa harus turun tahta pada tanggal 21 Mei 1998 oleh tekanan dari gerakan Reformasi yang sudah bosan dengan pemerintahan militer Soeharto yang otoriter. Gerakan Reformasi didukung oleh negara-negara Barat yang menggulirkan konsep civil society dengan tema pokok Hak Asasi Manusia (HAM).
Presiden Habibie mendapat dukungan dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), suatu bentuk pressure group dari kalangan Islam, dimana ia duduk sebagai Ketua Umumnya. Terbentuknya ICMI merupakan suatu keberhasilan umat Islam dalam mendekati kekuasaan karena sebelumnya pemerintah sangat phobi terhadap Islam politik. Hal itu terjadi karena ada perantara Habibie yang sangat dekat dengan Soeharto. Dengan demikian, pengembangan konsep masyarakat madani merupakan salah satu cara dari kelompok ICMI untuk merebut pengaruh dalam Pemilu 1997. Kemudian konsep masyarakat madani mendapat dukungan luas dari para politisi, akademisi, agamawan, dan media massa karena mereka semua merasa berkepentingan untuk menyelamatkan gerakan Reformasi yang hendak menegakkan prinsip-prinsip demokrasi, supremasi hukum, dan HAM.
Pengamat politik dari UGM, Dr Mohtar Mas’oed (Republika, 3 Maret 1999) yakin bahwa pengembangan masyarakat madani memang bisa membantu menciptakan atau melestarikan demokrasi, namun bagi masyarakat yang belum berpengalaman dalam berdemokrasi, pengembangan masyarakat madani justru bisa menjadi hambatan terhadap demokrasi karena mereka menganggap demokrasi adalah distribusi kekuasaan politik dengan tujuan pemerataan pembagian kekuasaan, bukan pada aturan main. Untuk menghindari hal itu, diperlukan pengembangan lembaga-lembaga demokrasi, terutama pelembagaan politik, di samping birokrasi yang efektif, yang menjamin keberlanjutan proses pemerintahan yang terbuka dan partisipatoris.
Keteganggan di Indonesia tidak hanya dalam wacana politik saja, tetapi diperparah dengan gejala desintegrasi bangsa terutama kasus Timor Timur, Gerakan Aceh Merdeka, dan Gerakan Papua merdeka. Hal itu lebih didorong oleh dosa rezim Orde Baru yang telah mengabaikan ciri-ciri masyarakat madani seperti pelanggaran HAM, tidak tegaknya hukum, dan pemerintahan yang sentralistis/absolut. Sedangkan, kerusuhan sosial yang sering membawa persoalan SARA menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang buta hukum dan politik (sebagai prasyarat masyarakat madani), di samping penegakkan hukum yang masih belum memuaskan.
Munculnya wacana civil society di Indonesia banyak disuarakan oleh kalangan “tradisionalis” (termasuk Nahdlatul Ulama), bukan oleh kalangan “modernis” (Rumadi, 1999). Hal ini bisa dipahami karena pada masa tersebut, NU adalah komunitas yang tidak sepenuhnya terakomodasi dalam negara, bahkan dipinggirkan dalam peran kenegaraan. Di kalangan NU dikembangkan wacana civil society yang dipahami sebagai masyarakat non-negara dan selalu tampil berhadapan dengan negara. Kalangan muda NU begitu keranjingan dengan wacana civil society, lihat mereka mendirikan LKIS yang arti sebenarnya adalah Lembaga Kajian Kiri Islam, namun disamarkan keluar sebagai Lembaga Kajian Islam.
Kebangkitan wacana civil society dalam NU diawali dengan momentum kembali ke khittah 1926 pada tahun 1984 yang mengantarkan Gus Dur sebagai Ketua Umum NU. Gus Dur memperkenalkan pendekatan budaya dalam berhubungan dengan negara sehingga ia dikenal sebagai kelompok Islam budaya, yang dibedakan dengan kelompok Islam Politik. Dari kandungan NU lahir prinsip dualitas Islam-negara, sebagai dasar NU menerima asas tunggal Pancasila. Alasan penerimaan NU terhadap Pancasila berkaitan dengan konsep masyarakat madani, yang menekankan paham pluralisme, yaitu: (1) aspek vertikal, yaitu sifat pluralitas umat (QS al-Hujurat 13) dan adanya satu universal kemanusiaan, sesuai dengan Perennial Philosophy (Filsafat Hari Akhir) atau Religion of the Heart yang didasarkan pada prinsip kesatuan (tawhid); (2) aspek horisontal, yaitu kemaslahatan umat dalam memutuskan perkara baik politik maupun agama; dan (3) fakta historis bahwa KH A. Wahid Hasyim sebagai salah seorang perumus Pancasila, di samping adanya fatwa Mukhtamar NU 1935 di Palembang (Ismail, 1999: 17).
Dalam pandangan Gus Dur, Islam sebagai agama universal tidak mengatur bentuk negara yang terkait oleh konteks ruang dan waktu sehingga Nabi Muhammad SAW sendiri tidak menamakan dirinya sebagai kepala negara Islam dan Nabi tidak melontarkan ide suksesi yang tentunya sebagai prasyarat bagi kelangsungan negara (Wahid, 2000: 16). Walaupun Nabi telah melakukan revolusi dalam masyarakat Arab, tetapi ia sangat menghormati tradisi dan memperbaharuinya secara bertahap sesuai dengan psikologi manusia karena tujuannya bukanlah menciptakan orde baru (a new legal order) tapi untuk mendidik manusia dalam mencapai keselamatan melalui terwujudnya kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan (Schacht, 1979: 541).
Pandangan pluralisnya didasarkan pada sejarah kehidupan Nabi sendiri yang terbuka terhadap peradaban lain, di samping tentunya sifat universalisme Islam. Dalam Islam ada lima jaminan dasar, seperti yang tersebar dalam literatur hukum agama (al-kutub al-fiqhiyyah), sebagaimana dikatakan Wahid (1999: 1) sebagai berikut: (1) keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum, (2) keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa adanya paksaan untuk berpindah agama, (3) keselamatan keluarga dan keturunan, (4) keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum, dan (5) keselamatan profesi.
Nabi Muhammad SAW telah menampilkan peradaban Islam yang kosmopolitan dengan konsep umat yang menghilangkan batas etnis, pluralitas budaya, dan heteroginitas politik. Peradaban Islam yang ideal tercapai bila tercapai keseimbangan antara kecenderungan normatif kaum Muslimin dan kebebasan berpikir semua warga masyarakat (termasuk mereka yang non-Muslim) (Wahid, 1999: 4). Keseimbangan itu terganggu dengan dilakukannya ortodoksi (formalisme) terhadap ajaran Islam. Ortodoksi yang tadinya untuk mensistematiskan dan mempermudah pengajaran agama, akhirnya menjadi pemasung terhadap kebebasan berpikir karena setiap ada pemikiran kreatif langsung dituduh sebagai bid’ah. Gus Dur memerankan diri sebagai penentang terhadap ortodoksi Islam atau dikatakannya main mutlak-mutlakan yang dapat membunuh keberagaman. Sebagai komitmennya dia berusaha membangun kebersamaan dalam kehidupan umat beragama, yang tidak hanya didasarkan pada toleransi model kerukunan (ko-eksistensi) dalam Trilogi Kerukunan Umat Beragama-nya mantan Menteri Agama H. Alamsyah Ratu Prawiranegara (1978-1983), tetapi didasarkan pada aspek saling mengerti (Hidayat dan Gaus, 1998: xiv). Oleh karena itu, Gus Dur sangat mendukung dialong antaragama/antarimam, bahkan ia ikut memprakarsai berdirinya suatu lembaga yang bernama Interfidie, yaitu suatu lembaga yang dibentuk dengan tujuan untuk memupuk saling pengertian antaragama. Gus Dur, seperti kelompok Tradisionalis lainnya, tidak memandang orang berdasarkan agama tapi lebih pada pribadi, visi, kesederhanaan, dan ketulusannya untuk pengabdian pada sesama.
Terpilihnya Gus Dur sebagai presiden sebenarnya menyiratkan sebuah problem tentang prospek masyarakat madani di kalangan NU karena NU yang dulu menjadi komunitas non-negara dan selalu menjadi kekuatan penyeimbang, kini telah menjadi “negara” itu sendiri. Hal tersebut memerlukan identikasi tentang peran apa yang akan dilakukan dan bagaimana NU memposisikan diri dalam konstelasi politik nasional. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian awal bahwa timbulnya civil society pada abad ke-18 dimaksudkan untuk mencegah lahirnya negara otoriter, maka NU harus memerankan fungsi komplemen terhadap tugas negara, yaitu membantu tugas negara ataupun melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh negara, misalnya pengembangan pesantren (Rumadi, 1999: 3). Sementara, Gus Dur harus mendukung terciptanya negara yang demokratis supaya memungkinkan berkembangnya masyarakat madani, dimana negara hanya berperan sebagai ‘polisi’ yang menjaga lalu lintas kehidupan beragama dengan rambu-rambu Pancasila (Wahid, 1991: 164).
4. Kesimpulan
Ekses dari gerakan Reformasi yang berhasil menggulingkan rezim Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 masih terus belum teratasi, seperti kerusuhan berbau SARA. Hal itu terjadi karena baik pemerintah maupun masyarakat masih belum berpengalaman dalam berdemokrasi, sehingga pengembangan masyarakat madani bisa menjadi hambatan bagi demokrasi, karena demokrasi dianggap sebagai distribusi kekuasaan politik dengan tujuan pemerataan pembagian kekuasaan, bukan pada aturan main.
Dilihat dari sejarahnya civil society yang lahir di Eropa pada abad ke-18 dengan tokohnya John Locke atau Montesquieu bertujuan untuk menghindari pemerintahan yang absolut. Dan Indonesia telah meniru model Amerika, dimana negara mempunyai posisi yang lemah vis-à-vis masyarakat. Hal itu bertentangan dengan prinsip keseimbangan dalam Islam dan sejarah masyarakat Madinah bentukan Nabi Muhammad SAW. Realitas juga menunjukkan kalau negara yang demokratis tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarkat madani, tetapi harus ada keinginan politik juga dari pemerintah karena banyak karakteristik dari demokrasi yang memang menjadi kewajiban negara modern.
Dengan demikian, diharapkan pemerintah dan MPR/DPR saling menjaga keseimbangan untuk menegakkan hukum yang sehat dan demokrasi. Masyarakat juga harus mengontrol kinerja pemerintah dan para wakilnya, agar tidak bertentangan dengan kehendak masyarakat madani. Baik menjadi anggota masyarakat madani maupun perangkat negara hendaknya dapat mewujudkan demokrasi.


























Daftar Pustaka

Azizi, A Qodri Abdillah. 2000. Masyarakat madani Antara Cita dan Fakta: Kajian Historis-Normatif. Dalam Ismail SM dan Abdullah Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Departemen Agama. 1992. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Semarang: PT Tanjung Mas Inti.

Habibie, B.J. 1999. Keppres No. 198 Tahun 1998 Tanggal 27 Februari 1999. Jakarta.

Hamim, Thoha. 2000. Islam dan Civil society (Masyarakat madani): Tinjauan tentang Prinsip Human Rights, Pluralism dan Religious Tolerance. Dalam Ismail SM dan Abdullah Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gamble, Andrew. 1988. An Introduction to Modern Social and Political Thought. Hongkong: Macmillan Education Ltd.

Hidayat, Komaruddin dan Ahmad Gaus AF. 1998. Pasing Over: Melintas Batas Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. xiv.

Ismail SM. 2000. Signifikansi Peran Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat madani. Dalam Ismail SM dan Abdullah Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ismail, Faisal. 1999. NU, Gusdurism, dan Politik Kyai. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Mohtar Mas’oed. (1999). Republika 3 Maret 1999.

Rumadi. 1999. Civil Society dan NU Pasca-Gus Dur. Kompas Online. 5 November 1999.

Schacht, Joseph and C.E. Bosworth (eds.). 1979. The Legacy of Islam. London: Oxford University Press.

Wahid, Abdurrahman. 1991. Pancasila sebagai Ideologi dalam Kaitannya dengan Kehidupan Beragama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Oetojo Oesman dan Alfian (eds.). Pancasila sebagai Ideologi. Jakarta: BP 7 Pusat.

Wahid, Abdurrahman. 1999. Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam. 11/9/99. Hal. 1.

Wahid, Abdurrahman. 2000. Tuhan Tidak Perlu Dibela. Yogyakarta: LkiS.

Weeramantry, C.G. dan M. Hidayatullah. 1988. Islamic Jurisprudence: An International Perspective. London: The Mcmillan Press.

*) Dosen Jurusan Sejarah FIS Universitas Negeri Yogyakarta
http:://rivafauziah.cianjur.web.id

cerpen 3

SAAT CINTA TLAH TERBAGI



Nama ku chindy….aku remaja ingusan 19 tahun yang udah ngalamin cobaan2 yang aku rasa berat….singkat cerita nih,ayah aku tu seorang pengusaha sangkar burung yang sukses banget tapi di awal tahun 2006 beliau bangkrut,di khianatin sama teman kerjanya.MIRIS!!! setelah itu,beliau mencoba bangkit dari keterpurukannya dan mencoba tes buat jadi karyawan swasta.dan ternyata lolos.ayahku mulai bekerja menjadi kryawan sebuah kantor swasta dengan gaji yang lumayan banyak lah cukup buat hidup sehari2.tapi….setelah beliau bekerja di sana beliau jadi terlibat perselingkuhan,aku berkata begini karena aku menyaksikannya

sendiri.singkat cerita juga ibu aku gak terima di perlakukan seperti itu,dan naas nya ibu ku malah membalas dengan perselingkuhan pula.beliau mulai berani jalan dengan teman laki2nya..bahkan aku pernah dengar dia masuk hotel dengan salah satu teman laki2nya.bisa di bayangin betapa hancurnya hati aku??sakitt banget kalo aku gak punya iman mungkin aku udah melakukan hal2 yang menyesatkan.tapi bersyukur aku masih bisa mengontrol diriku.intinya keluarga aku RUSAKKK

Saat aku mengalami keterpurukan ku yang luar biasa ini seorang laki2 datang menawarkan kasihnya padaku,namanya vincent usianya 2 tahun di atasku.dia begitu sabar terhadapku….dan juga terhadap keluargaku.Kami mulai menjalin hubungan 1 oktober 2009 jam 10:41…aku sangat mengingatnya.betapa bahagianya aku hari itu.Hari berganti hari,tahun berganti tahun tidak terasa hub kami sudah 2 tahun…banyak sekali ujian bagi hubungan kami ini.tapi semua itu mampu kami lewati karna besarya cinta kami.tapi tidak untuk masalah yang kali ini

Yaaa…. Orang ke-3…sejak vincent pindah tempat kerja dia mulai berbeda.ada seorang cewek yang aku tahu namanya Tisya.awalnya Tisya yang ngejar2 vincent.setahu aku vincent ituorangnya gak mudah tertarik sama cewek tapi ternyata aku salah.suatu ketika aku membuka hape nya vincent ada beberapa sms dari Tisya
Tisya mesagge::Sayang abis ini aku melucur ke kafe tunggu aku ya sayang.lalu aku buka balasan sms vincent ke tisya aku berharap balasan itu tidak ada.tapi ternyata ada.aku buka pelan2…

Vincent mesagge::Iya sayyanggkuuu aku tunggu ya..muach……Ya Tuhan kaget banget aku.aku tanya pelan2 sama vincent “sayang ini maksudnya apa??kok kamu manggilnya sayang2 sih ke tisya”aku lihat sorot mata gugup dari mata vincent.tapi dia mencoba menjawab setenang mungkin.”ya ampun kok bisa sih padahal aku gak bales sms dia lho sayang..ohh ini pasti ulahnya si Dikko,dia emang usil banget sayang suka baca2 sms aku gitu.beneran deh yank bukan aku yang balesin masa kamu gak percaya sih sama aku?”terpaksa aku mempercayainya.tapi tidak 100%..singkat cerita aku mulai menyelidiki hubungan mereka.dan ternyata memang benar mereka ada hubungan!!

suatu ketika ada seorang cewe yang ngasih tau aku.kalo vincent sering ngasih cokelat ke tisya kalau tisya marah.padahal kalau aku yang marah vincent malah balik marah ke aku.merasa tidak adil,kenapa harus terjadi yang seperti ini apa kurangnya aku ke vincent.aku gak pernah nuntut macem2 sama vincent tapi kenapa dia bisa tega sama aku.lalu aku mulai add facebook teman2 kerja vincent.aku mau telusuri foto2 mereka dan ternyata banyak sekali foto mesra mereka,di kafe,mall,bahkan di pantai pun ada.bisa kalian bayangin kan gimana rasanya.

Sabtu sore sepulang kerja aku ajak vincent ke taman buat bicaraain ini baik2.dan akhirnya vincent mengaku kalau memang dia menyayangi tisya,dia cinta sama tisya,dan gak bisa untuk lebih miilih salah satu antara aku/tisya.Vincent nangis dan memohon untuk di beri kesempatan.dia minta waktu untuk dia bisa melupakan Tisya.aku menurut saja karna aku sangat mencintai Vincent.Setiap malam aku berdoa buat hubungan ini.aku minta yang terbaik untuk hubungan aku dan Vincent.Tapi Tuhan menjawab lain.semakin hari vincent malah semakin berani dengan hubungannya bersama Tisya….Aku sering denger dari teman2ku kalau mereka bertemu vincent dan tisya di tempat2 umum berduaan.itu udah menunjukkan betapa beraninya mereka.

tapi aku juga tidak tahu harus berbuat apa.Vincent tidak mau melepasku tapi aku tersiksa dengan keadaan seperti ini.lalu aku merenungi kejadian ini.semua kembali ke aku.Ayah dan ibuku saling mengkhianati dan berselingkuh…akhirnya anak yang jadi korban.mungkin seperti inilah perasaan suami/istri selingkuhan ayah dan ibuku.aku baru masa pacaran bagaimana dengan mereka yang sudah menikah dan mempunyai anak.betapa sakitnya hati mereka.kalau sudah seperti ini siapa yang harus di salahkan??Tidak ada!!semua terjadi dengan sendirinya.akan selalu begitu.dan saat ini aku memutuskan untuk keluar dari semuanya.lebih mendekatkan diriku pada Tuhan.berharap Tuhan pulihkan hidupku dan juga keluargaku.satu hal yang harus kita pegang HUKUM KARMA MASIH BERLAKU…..

cerpen 2

Cinta Tak Tersampaikan


Aku terdiam dengan semua harapanku terhadap sesosok lelaki yang aku cintai. Matanya selalu ada dalam lamunanku dan pikiranku. Dia adalah mentorku dikelompok Sosjur dia adalah Kak Dimas. Ku coba melupakannya tapi aku tak bisa karena aku masih selalu menyimpan rasa itu. Hari ini tepat jam 05.00 aku berangkat lagi menuju kampus , males banget tapi hari ini hari terakhir kegiatan yang sangat melelahkan yaitu sosjur.hah, bertemu lagi dengan dia, aku sangat tak mau bertemu dengannya tapi apa boleh buat. Aku segera membangunkan kakakku yang tertidur pulas, tak tega membangunkannya tapi harus bagaimana lagi .
“kak, bangun anterin dede ke kampus”ujarku sambil membangunkan kakakku

Kakakku terbangun dengan matanya yang masih mengantuk, tapi tak terlihat wajah yang menjengkelkan malahan kakakku seperti yang bersemangat untuk mengantarku ke kampus.
Kami pun bersiap untuk berangkat, di perjalan aku selalu memikirkan dirinya yang ada pada ingatanku. Setibanya disana aku melihatnya. “Deg” jantung berdetak sakit , mungkin sakit karena dia bukan milikku.
Aku berpamitan kepada kakaku karena panitia sudah berteriak-teriak, dalam hatiku aku ingin menjerit “ sabar donk panitia ” dengan kesalnya aku masuk barisan kelompokku. Dia melihatku tapi dia melihatrku karena dia mentorku dia melihatku karena ingin mengabsenku dan mengecek apa semua perlengkapanku sudah dibawa semuanya “apa sudah lengkap Din??”tanyanya
“sudah kak”jawabku
Huh, hati semakin tak karuan saat dia berbicara dengan teman sekelompokku yang bernama Agnes, sedih marah dan ingin menangis dia lebih mendekati Agnes dibandingkan anggota kelompok lainnya ya aku akui Agnes sangatlah cantik , tak heran semu senior sangat menyukainya. Aku berusaha menghindarimya tak tersenyum padanya karena aku sakit sekali.

Panitia sudah berteriak untuk kami berangkat menuju aula. Dia selalu ada dalam pikiranku apa karena dia mirip dengan orang yang pernah ada dihatiku atau karena aku benar benar menyukainya. Aku ingin terus menghindar dan menghindar tapi semakin aku mengindarinya semakin tak karuan hati ini.
Beberapa materi dari para petinggi kampus membuatku mengantuk dan sangat membosankan.
Akhirnya istirahat juga akupun segera keluar dengan teman temanku. Aku melihat senior yang paling menyeramkan.
“eh liat. Itu senior yang paling menyeramkan”ujarku
“hahaha . . ada ada kamu”ujar temanku Nina
Akupun segera menuju kelas dan makan bareng sengan teman teman . setelah makan aku diajak oleh temen ku Nina shalat
Deg aku bertemu dengan Dia .
Aku etrsenyum
“Dina ada yang nanyain kamu dan ada salam dari kk sebelah kk”dia tersenyum
Dalam hati kenapa harus dia kenapa tidak kamu
Akupun tersenyum sakit. Dan selalu bertanya Tanya kenpa kenapa??
“dia kan yang kata kamu menyermakna , cieeee”ledek temanku
Aku hanya tersenyum ya ajaib orang yang bagiku begitu menyeramkan ternyata dia memerhaikanku tapi tetap dihatiku hanya ada dia .

Tak terasa hari sudah malam sekitar jam 21.00 panitia membuat acara api ungun dan setiap kelompok harus membawakan sebuah pentas seni . aku mewakili kelompokku dan melatunkan sebuah lagu
“ku suka dirinya mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin kau menjadi milikku”
Itu sepenggalan lagu Rasa Ini dari Vierra yang mewakili perasaanku terhadap Dia Dia Mentorku.
Dalam hati “ini lagu untukmu Mentorku”
Setelah itu aku kembali pada barisanku, hah sakit banget dia berdekatan dengan Agnes. Ya mungkin dia sangat suka ma Agenes. Aku hanya bisa menghela nafasku “Haahhh”
Pagi menyambutku dengan gembira cuaca sangatlah cerah tapi hatiku ini masih gelap gulita karena dia. Senior suda berteriak untuk memakai peralatan yang aneh aneh tapi aku jalani saja dan segera berbaris, katanya kami harus jelajah alam

“ah pasti sekarang saatnya kita disiksa”ujar Nina
“iya ya ”akupun mengeluh . iya ya saatnya kita disiksa mati matian . benar saja saat kelompok kami berjalan sudah ada kakak menyeramkan
“akhirnya kalian datang juga cepet ambil tuh air berlumpur itu”suruh senior itu . .
Dan kamipun membawa air berlumpur ini
“ya sekarang kalian tumpahkan ketubuh kalian ”seniorpun tertawa
Ingin sekali ku berteriak apa apaan ini.
Kamipun menumpahkan air lumpur itu kesukujur tubuhku
Senior malah tertawa bahagia. Apa ini lucu ??

Kami pun segera melanjutkan jelajah alam. Ternyata ini tidak terlalu sulit malah ini semakin menyenangkan begitu menantang. Tapi perasaan sakit itu muncul dia selalu ada disekelilingku dan semakin sakit dia selalu menempel pada seorang gadis yang lebih menawan disbanding aku. Hatiku semakin sesak seperti tak bisa lagi menahan itu semua.
Aku harus bagaimana perasaan ini semakin tak mau diam. Aku semakin ingin menjauh dan menjauh
“kamu suka sama mentor”tiba tiba Rani berbisik padaku
Aku kaget aku malu
“tak usah malu , dari tadi kamu melihat Kak Dimas begitu sedih. Apa aku bantu saja??”ujarnya
“jangan, itu tidak benar”malu aku

Ranipun tersenyum
Aku cemas Rani menceritakan ini semua pada Kak Dimas Mentorku. Aku takut aku tak bisa mendekati dia
Acara jelajah pun telah selesai , aku menyandarkan tubuhku ke tembok aula. Tiba tiba dia datang menghampiriku
“selamat beristirahat”senyumnya
Aku tersenyum sedih karena mungkin Dia memperhatikanku karena aku adalah juniornya.
Akhirnya aku berjanji pada diriku sendiri aku akan memendam rasa itu aku akan melupakanmu walau aku tak bisa tapi aku akan berusaha, Dia hanya mimpi bagiku tak
untuk jadi nyata. Aku akan selalu mendoakanmu bahagia walau kau tak termiliki

Cerpen 1

Hujan mengawali pagi hari dimana Anne memulai segalanya. Anne membuka matanya perlahan dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya. Ia bergegas untuk berangkat sekolah.
Anne keluar dari kamarnya dan menuju keluar rumah.

“mama..!! Anne berangkat sekolah ya!” kata Anne dengan tergesa-gesa. Belum sempat ibunya menjawab, Anne sudah meninggalkan rumahnya.

Setibanya Anne di pintu gerbang sekolah, ia bahagia karna melihat pemandangan yang selalu membuatnya tersenyum senang. Anne melihat Ricko, temannya. Sudah hampir satu bulan Anne selalu memerhatikan Ricko tapi Ricko tidak menunjukkan reaksi apapun.

“hari ini gue punya kabar baik buat diri gue sendiri! Pertama, gue gak terlambat dateng ke sekolah. Kedua, pagi-pagi gini walaupun ujan.. gue bisa ngeliat Ricko!” kata Anne pada dirinya sendiri.
Anne sebenarnya ingin berlama-lama di depan pintu gerbang sekolah dan memerhatikan Ricko. Tetapi, ia harus segera masuk kelas.

***

Sesampainya Anne di kelas, ia melihat pemandangan biasa yang membuatnya bosan. Teman-temannya sedang bertukar pikiran alias contek-mencontek. Anne tidak berminat untuk berpartisipasi dalam contek-mencontek itu.

“Ke! Lo belum ngerjain pr ini? Ya’ampun! Kemana aja sih lo?” kata Anne pada teman sebangkunya, Keila.
“belum An! Lo udah?” Tanya Keila.
“udahlah! Lo gimana sih! Itu pr ipa kan? Itu kan udah dari seminggu yang lalu! Kenapa gak dikerjain di rumah? Haduuh!”
“males gue ah! Eh,, An! Sini deh duduk” Keila menarik Anne sampai Anne duduk di kursinya.
“ada apaan sih Ke? Mesti duduk segala!” Anne bingung.
“tapi,, gue takut lo nangis kalo dengernya!” wajah Keila prihatin.
“kenapa sih? Gue gak nangis deh! Janji!”
“Ricko,, jadian sama Rena!”
“oh,, cuma itu?” wajah Anne berubah tapi Anne mencoba untuk berpura-pura tersenyum dan tidak peduli.
“lo gapapa?” Tanya Keila.
“ya,, gue gapapa! Emangnya apa hubungannya gue sama Ricko?” Anne berlagak tidak peduli.

Keila tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Keila tahu yang Anne katakan untuk menguatkan hatinya.
‘jadi,, Ricko,, huuft.. yaudahlah!’ batin Anne.
Anne berjalan keluar kelas meninggalkan Keila yang kembali sibuk mengerjakan pr. Anne melihat rintikan air hujan dari depan kelasnya. Anne melihat dengan jelas ada Ricko di seberang. Tak terasa air mata Anne mengalir.

***

Siang hari yang terik menghapus lembabnya hujan tadi pagi. Anne yang terbaring di tempat tidurnya tidak bisa menahan tangisnya.

Anne bangkit dan berjalan menuju lemari kamarnya. Ia membuka lemarinya dan mengambil sapu-tangan yang ia rajut sendiri. Di sapu-tangan itu tertera nama Ricko. Anne mencoba untuk merusak sapu-tangan itu tapi tidak bisa. Anne mengambil gunting dan mencabik-cabik sapu-tangan itu.

“percuma! Percuma gue ngerajut nama Ricko sebagus apapun! Bahkan percuma kalo gue ngerajut namanya di hati gue! semua itu gak akan bisa ngerubah kenyataan kalo dia bukan buat gue!” kata Anne.
Anne memejamkan matanya. Anne berharap semua ini mimpi dan Anne ingin ia melupakan semua yang pernah ia harapkan. Selama ini, Anne selalu berharap bisa menjadi sesuatu yang special bagi Ricko. Tapi, kini semua itu menjadi sia-sia.

“kalo di otak gue ada tombol delete,, pasti semua harapan gue tentang Ricko udah ilang sekarang!” Anne mencoba tersenyum.

“gue gak boleh cengeng! Gue masih punya sahabat,, gue punya keluarga yang sayang sama gue! apa yang kurang dari hidup gue ini? Udah lengkap menurut gue! gue gak butuh yang lain lagi!” Anne benar-benar tersenyum sekarang. Ia memikirkan hal-hal yang selalu membuatnya bahagia.

Anne keluar dari kamarnya dan melihat ada sahabat-sahabatnya menunggu di ruang tamu. Anne bingung karna sebelumnya ia tidak punya janji dengan sahabatnya.
“kalian di sini?” Anne bingung.

“iya.. gue pikir, lo lagi butuh temen jadi, gue ajak yang lain ke sini juga!” kata Keila.
“tapi kok, tadi gue gak di panggil? Kenapa kalian gak manggil gue?” Tanya Anne.
“ehm,, kita takut ganggu kamu An.. jadi kita tunggu aja di sini!” kata Lisya.
Anne menghampiri sahabat-sahabatnya itu. Anne duduk di samping Gita. Gita tersenyum menatap Anne.
“kalian,, ehm,, huft,, jujur aja! Kalian ke sini karna kasihan ya sama gue?” tanya Anne.
“kita gak kasihan kok sama lo! Kita Cuma prihatin An!” kata Gita.
“sama aja Git!” Anne menunduk.
“kita tau kamu butuh temen! Jadi kita ada di sini! Kita akan selalu ada kalo kamu butuhin An!” kata Lisya.

Anne tersenyum senang mendengar pernyataan sahabatnya yang terdengar sangat peduli dengannya.
“makasih ya guys! Kalian baik banget!”
Sahabat-sahabat Anne tersenyum senang melihat Anne tersenyum. Mereka menghabiskan siang hari bersama-sama. Dan mereka berjanji satu-sama lain untuk akan terus bersama wlaupun apapun yang terjadi.

***

Dua bulan telah berlalu, Anne termenung sendirian di perpustakaan sekolahnya yang sepi. Ia begitu bingung dengan perasaan yang ia rasakan. Anne mengambil kertas dan pensil yang ada di dalam tas-nya. Anne mulai menulis apa yang ia rasakan karna ia sulit untuk mengungkapkannya secara lisan.

Aku punya segalanya yang aku inginkan,,
Aku mendapat semua kasih sayang yang aku butuhkan,,
Aku juga tidak sendirian!
Aku mempunyai banyak sahabat yang peduli padaku,
Aku juga mempunyai keluarga yang menyayangiku..
Tapi perasaanku lain dengan keadaan ini..
Rasanya aneh! Sulit untuk aku ungkapkan!
Aku merasa hampa! Kosong!
Aku harus menyebut ini apa?

Anne melipat kertasnya dan menyingkirkannya dari meja membacanya di perpustakaan.
“mungkin kesepian!” suara dari belakang mengejutkan Anne.
Anne menoleh dan sangat terkejut. Tepat di belakang Anne, ada Ricko yang sedang membawa kertas yang Anne singkirkan tadi. Ricko mengambil kursi di sebelah Anne dan mendudukinya.

“boleh duduk di sini kan gue?” Tanya Ricko. Anne hanya bisa mengangguk karna bingung.
“tadi,, lo bilang apa?” Tanya Anne.
“gue bilang,, mungkin lo kesepian?”
“gak mungkin! Karna gue punya banyak sahabat!” kata Anne.
“dari luar semua orang juga gak akan keliatan kesepian! Tapi,, mungkin hati lo yang kesepian!” kata Ricko sambil memberikan senyuman manis.

“terus,, apa yang bisa buat gue gak kesepian?” Tanya Anne.
“menurut lo?? Jelas gue gak tau! Cuma lo sendiri yang tau apa yang lo mau!” kata Ricko. Ricko menatap mata Anne dengan tajam.

“ehm,, entahlah!” Anne mengalihkan pandangannya.
“tau gak sih An! Baru sekarang gue berani ngomong sama lo!” kata Ricko mencoba menatap Anne.
“emangnya kenapa? Emangnya sebelumya lo takut sama gue?” Anne bingung atas pernyataan Ricko.
Ricko tersenyum dan berkata “iya! Gue takut jantung gue copot kalo ngomong sama lo! Tapi,, ternyata gak! jantung gue cuma berdetak lebih cepet!”
“apaan sih lo Ricko! Oh,, iya! Bukannya lo pacaran sama Rena ya?” Tanya Anne.
“udah lama banget kali!” kata Ricko.
“sekarang masih?”
“yup!”
‘kalo lo masih pacaran sama Rena,, kenapa harus ngomong jantung mau copot segala coba?’ batin Anne.
“oh iya,, Anne! Gue suka sama lo!” kata Ricko.
“maksud lo apa sih Ricko?” Anne jadi kesal dengan sikap Ricko.
“gue suka sama lo! Gue mau lo jadi sahabat gue karna gue udah lama ngincer lo jadi orang yang special buat gue!” kata Ricko.
“maksudnya?”
“kalo lo mau,, lo bisa jadi orang yang sangat special bagi gue! ‘SAHABAT’ lo mau kan jadi sahabat gue? please…!” Ricko memohon sampai ia berlutut di hadapan Anne.
“haha,, lebay banget sih! Pastinya gue mau jadi sahabat lo! Tapi,, lo harus janji! Lo harus bantuin gue nemuin obat kesepian gue!” kata Anne.

“gak perlu repot kok! Obat kesepian lo itu kan gue!” Ricko membanggakan dirinya.
Anne tersenyum mendengarkan pernyataan Ricko.
‘mungkin,, ini udah takdir! Dan gue seneng banget bisa sahabatan sama Ricko! Selama ini,, gue berharap bisa jadi sesuatu yang special buat Ricko! Dan,, sekarang tercapai! Gue ngerti,, sahabat lebih special dari apapun itu! sekarang semuanya berjalan sempurna’ batin Anne.

PEMANFAATAN KOMPUTER DALAM INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PEMANFAATAN KOMPUTER DALAM INOVASI
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Oleh : Rachmadi Widdiharto*)
A. Pendahuluan

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Lebih lanjut dalam Permendiknas No. 22 th. 2006 tentang Standar Isi menyebutkan bahwa kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif
Namun demikian keadaan di lapangan belumlah sesuai dengan yang diharapkan. Hasil studi menyebutkan bahwa meski adanya peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun pembelajaran dan pemahaman siswa SMP (pada beberapa materi pelajaran – termasuk matematika) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Pembelajaran di SMP cenderung text book oriented dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran konsep cenderung abstrak dan dengan metode ceramah sehingga konsep-konsep akademik kurang bisa atau sulit dipahami. Sementara itu kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa, atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran bermakna, metode yang digunakan kurang bervariasi, dan sebagai akibatnya motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan mekanistis (Direktorat PLP, 2002).
Sementara itu, dari hasil Laporan Training Needs Assessment (TNA) PPPPTK Matematika Yogyakarta th 2008 yang dilaksanakan di 15 provinsi dengan jumlah responden 268 orang/guru SMP pada butir Pemanfaatan Media Komputer dalam Pembelajaran Matematika menyebutkan bahwa masing-masing 82,7 % dan 80,2% dari responden materi Penggunaan Internet dan Microsoft Office PowerPoint sangat diperlukan, 76,2% responden materi Penggunaan Microsof Office MsExcel, dan 67,3% materi Pemanfaatan Microsoft Office MsWord cukup diperlukan. Mencermati hal tersebut di atas, sudah saatnya untuk diadakan pembaharuan, inovasi ataupun gerakan perubahan mind set ke arah pencapaian tujuan pendidikan di atas. Pembelajaran matematika hendaknya lebih bervariasi metode maupun strateginya guna mengoptimalkan potensi siswa. Upaya-upaya guru dalam mengatur dan memberdayakan berbagai variabel pembelajaran, merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang direncanakan.
Merujuk pada Standar Isi (sebagaimana pada Permendiknas No. 22 th. 2006) pada kalimat terakhir bagian latar belakang pada standar isi mata pelajaran Matematika untuk SMP/MTs tertulis “Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga atau media lainnya”. Dari kalimat tersebut dapat dimaknai bahwa guru diharapkan menggunakan/memanfaatkan media untuk dapat/lebih meningkatkan keefektifan pembelajarannya. Media pembelajaran merupakan suatu sarana/alat bantu guru untuk
menyampaikan pesan ataupun informasi agar dapat diterima dengan baik dan
menarik oleh siswa. Pemilihan media pembelajaran yang tepat akan berpengaruh
dalam mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran secara lebih optimal. Karena itu pemilihan metode, strategi, pendekatan serta pemanfaatan media pembelajaran guna tercapainya inovasi pembelajaran matematika dengan iklim PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) adalah tuntutan yang mesti dipenuhi bagi para guru.

B. Karakteristik dan Obyek Matemaika Sekolah

Ebbutt dan Straker (1995) menyebutkan karakteristik Matematika sekolah sebagai berikut :
a. Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola hubungan.
Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) memberi kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan , (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan berbagai cara , (3) mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan, dsb. (4) mendorong siswa menarik kesimpulan umum, (5) membantu siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan yang lainnya.
b.Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan
penemuan.
Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) mendorong inisiatif dan memberikan kesempatan berpikir berbeda, (2) mendorong rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan memperkirakan. (3) menghargai penemuan yang di luar perkiraan sebagai hal bermanfaat dari pada menganggapnya sebagai kesalahan, (4) mendorong siswa menemukan struktur dan desain matematika, (5) mendorong siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya, (6) mendorong siswa berpikir refleksif, dan (7) tidak menyarankan hanya satu metode saja.
c. Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah (problem solving)
Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika,(2) membantu siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri, (3) membantu siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika, (4) mendorong siswa untuk berpikir logis, konsisten, sistematis, dan mengembangkan sistem dokumentasi/ catatan, (6) membantu siswa mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan berbagai alat peraga / media pendidikan matematika seperti : jangka, kalkulator, dsb.
d.Matematika sebagai alat berkomunikasi
Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) mendorong siswa mengenal sifat matematika, (2) mendorong siswa membuat contoh sifat matematika, (3) mendorong siswa menjelaskan sifat matematika, (4) mendorong siswa memberikan alasan perlunya kegiatan matematika, (5) mendorong siswa membicarakan persoalan matematika, (6) mendorong siswa membaca dan menulis matematika, (7) menghargai bahasa ibu siswa dalam membicarakan matematika.
Sementara itu, menurut Bell (1998) obyek langsung pelajaran matematika sekolah dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Fakta
Fakta adalah perjanjian atau semufakatan yang dibuat dalam matematika. Misalnya
istilah (nama), notasi ( lambang), dan semufakatan ( konvensi).
Contoh :
1.Notasi “” untuk kata “sigma” yang berarti jumlah.
2.Notasi “” untuk kata “ dan” pada logika matematika.
3.Semufakatan “ Pada garis bilangan, di sebelah kanan 0 adalah positip, dan di
sebelah kiri 0 adalah negatip.
Cara mengajarkan fakta dapat dilakukan dengan berbagai tehnik antara lain ;
menghafal, drill, peragaan, dll.
b. Konsep
Konsep adalah pengertian atau ide abstrak yang memungkinkan seseorang menggolong-golongkan obyek atau kejadian, dan menentukan apakah suatu obyek atau kejadian merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak itu.
Contoh :
1. Konsep fungsi dijelaskan dengan contoh dan bukan contoh.
2. Konsep bilangan asli : 1, 2, 3, 4, .......
Beberapa konsep merupakan pengertian dasar yang dapat ditangkap secara
alami, gamblang, dan tanpa harus didefinisikan.
Contoh : himpunan, titik, dsb.
Sedangkan konsep lain diterangkan, didefinisikan atau diberi batasan dengan
menggunakan konsep terdahulu. Misalnya pengertian bilangan prima dijelaskan
dengan pengertian faktor ( bilangan prima adalah bilangan yang memiliki tepat
dua faktor). Pengertian faktor dijelaskan sebagai bagian dari perkalian. Pengertian perkalian dijelaskan sebagai penjumlahan berulang.
Pengertian penjumlahan dijelaskan sebagai penggabungan dua himpunan saling lepas. Jadi konsep-konsep itu membentuk suatu jaringan konsep yang disebut juga peta konsep.
Cara mengajarkan konsep :
dimulai bahwa siswa diyakini telah memiliki pengetahuan prasyarat, kemudian dengan pendekatan deduktif , juga induktif, atau bisa juga dengan persepsi, abstraksi dan generalisasi.
c.Prinsip
Prinsip adalah pernyataan yang menyatakan berlakunya suatu hubungan antara beberapa konsep. Pernyataan itu dapat menyatakan sifat-sifat suatu konsep,hukum-hukum, teorema atau dalil yang berlaku dalam konsep itu. Sebagaimana halnya konsep, prinsip juga berjenjang.
Contoh :
1.Jumlah n bilangan asli yang pertama adalah : n ( n + 1)
2.Persegipanjang dapat menempati bingkainya tepat dengan 4 cara.
Cara mengajarkan prinsip :
Identifikasi konsep-konsep mana yang telah diketahui, kemudian melalui proses inkuiri, penemuan terbimbing, diskusi kelompok, pemecahan masalah, demonstrasi, dsb.


d.Operasi / prosedur.
Operasi atau prosedur adalah pengerjaan dan langkah-langkah kerja dalam matematika. Misalnya, langkah-langkah dalam perkalian bersusun, prosedur menyelesaikan persamaan. Prosedur ini disebut juga algoritma. Prosedur ini mempercepat pengerjaan, namun tetap didasari logika yang benar. Karena itu, objek ini disebut juga sebagai skill.

C. Pembelajaran Matematika Kekinian
Mengajarkan matematika tidaklah mudah karena kenyataan menunjukkan bahwa para siswa masih mengalami kesulitan dalam mempelajari Matematika (Jaworski, 1994). Guna mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran Matematika dan membantu dalam inovasi pembelajaran matematika, ada baiknya lebih dahulu memahami tentang paradigma baru pendidikan.
Paradigma baru pendidikan menekankan bahwa proses pendidikan formal sistem persekolahan seharusnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Sutarto, 2000)
a. Pendidikan lebih menekankan pada proses belajar (learning) dari pada mengajar (teaching).
b. Pendidikan diorganisasi dalam suatu struktur yang fleksibel.
c. Pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik yang khusus dan mandiri.
d. Pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan.
Seiring dengan pergeseran di atas, muncul suatu pendekatan yang juga sering kita dengar yakni pendekatan kontekstual. Permendiknas RI No. 22 th. 2006 tentang Standar Isi pada Latar belakang menyebutkan: ”Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika”.
Apabila kita melihat model-model pembelajarn kekinian utamanya dalam matematika, Pembelajaran matematika yang kontekstual atau realistik telah berkembang di negara-negara lain dengan berbagai nama. Di Belanda dengan nama RME (Realistic Mathematics Education), di Amerika dengan nama CTL (Contextual Teaching Learning in Mathematics) atau CME (Contextual Mathematics Education). Model-model yang demikian seiring dengan standar proses pendidikan kita sebagaimana Permendiknas No. 41 th. 2007. Dalam buku Pendekatan Contexual Teaching and Learning (Dir. PLP, 2003) menyebutkan ada 7 (tujuh) komponen dalam pembelajaran CTL yakni: constructivism (konstruktivisme), questioning (pertanyaan), inquiry (penemuan), modelling (pemodelan), authentics assessment (penilaian sebenarnya), reflection (refleksi), dan learning community (masyarakat belajar).
Sementara itu terkait dengan pembelajaran matematika, gagasan RME muncul sebagai jawaban terhadap adanya gerakan matematika modern di Amerika Serikat dan praktek pembelajaran matematika yang terlalu mekanistik di Belanda. Freudental (dalam Nur M; 2000) menyatakan bahwa pembelajaran konvensional terlalu berorientasi pada sistem formal matematika sehingga anti didaktik. Sementara itu, pada tahun 1980-an telah terjadi pergeseran paradigma teori belajar pada pembelajaran matematika yaitu dari behavioris dan strukturalis, kearah kognitif dan konstruktivis-realistik.
Wardhani (2002) menyebutkan lima karakteristik utama dari pembelajaran matematika yang kontekstual adalah sebagai berikut:
1. Diajukannya masalah kontekstual untuk dipecahkan atau diselesaikan oleh siswa sebagai titik awal proses pembelajaran.
2. Dikembangkannya cara, alat, atau model matematis (gambar, grafik, tabel, dll) oleh siswa sebagai jawaban informal terhadap masalah yang dihadapi yang berfungsi sebagai jembatan antara dunia real dengan abstrak sehingga terwujud proses matematisasi horisontal (yaitu proses diperolehnya matematika informal)
3. Terjadi interaksi antara guru dan siswa atau antara siswa dengan siswa, atau antara siswa dengan pakar dalam suasana demokratif berkenaan dengan penyelesaian masalah yang diajukan selama proses belajar.
4. Ada keseimbangan antara proses matematisasi horisontal dan proses matematisasi vertikal (yaitu proses pembahasan matematika secara simbolik dan abstrak). Ini berarti jawaban informal siswa dihargai sebelum sampai pada tahap mempelajari bentuk formal matematika. Dengan cara demikian diharapkan ada kesempatan bagi siswa untuk merefleksi, menginterpretasi, dan menginternalisasi hal yang dipelajari.
5. Pembelajaran matematika tidak semata-mata memberi penekanan pada komputasi dan hanya mementingkan langkah-langkah prosedural penyelesaian soal (drill) namun juga memberi penekanan pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah.

D. Komputer dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi
Apabila dirujuk dari sejarah, istilah komputer mulai dikenal sejak abad 19. Tujuan awal ditemukan komputer adalah membantu dalam komputasi (to compute – menghitung- hitung-menghitung), namun seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan umat manusia, komputer telah menjadi alat teknologi yang canggih dan hampir digunakan dalam setiap aspek kehidupan manusia sebagaimana yang kita kenal hingga saat ini.
Komputer di awal kehadirannya dipahami sebagai alat elektronik yang mampu melakukan beberapa tugas, yaitu menerima input, memproses input tersebut sesuai dengan programnya, menyimpan perintah-perintah dan hasil pengolahannya, serta menyediakan output dalam bentuk informasi. Kemajuan bidang informasi ini, menempatkan komputer sebagai bagian sentral dalam jaringan komunikasi yang dinamakan dengan Internet.
Secara etimologis, Internet berasal dari kata “Interconnection Network”,adalah hubungan bermacam komputer dengan berbagai jenis dan tipe yang membentuk suatu system jaringan informasi dunia dan masyarakat global. Mac Blank menyatakan Internet adalah jaringan komunikasi global yang terbuka dan menghubungkan ribuan jaringan komputer, melalui sambungan telpon umum maupun pribadi (pemerintah maupun swasta). Secara individual, jaringan komponennya dikelola oleh agen-agen pemerintah, universitas, organisasi komersial, maupun sukarelawan (1995). Sedangkan John Ross (1995) memberikan definisi Internet secara umum, yaitu merupakan “jaringan di banyak jaringan” yang dimaksud jaringan adalah kumpulan komputer yang dihubungkan satu sama lain (Widdiharto, 2008).
Dilihat secara teknis, Internet adalah hubungan dari lebih dari juta-an komputer yang berlainan di dunia, meskipun tidak ada seorangpun yang tahu secara persis berapa banyaknya komputer yang terhubung ke Internet. Internet merupakan sebuah jaringan komputer yang superlatif dan meliputi seluruh bola bumi, sehingga merupakan bentuk terbesar yang dimungkinkan dengan sebuah Wide Area Network (WAN).
Pemanfaatan Internet dalam pembelajaran sering disebutkan sebagai e- leraning. Secera sederhana, e-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, maupun komputer stand alone (www.Learnframe.com). Sementara itu, UNESCO (2007) menyebutkan mengenai istilah Teknologi Infrormasi dan Komunikasi (TIK), Information and Communication Technologies (ICT) refers to forms of technology that are used to transmit, process, store, create, display, share or exchange information by electronic means. This broad definition of ICT includes such technologies as radio, television, video, DVD, telephone (both fixed line and mobile phones), satellite systems, and computer and network hardware and software, as well as the equipment and services, associated with theses technologies, such as videoconferencing, e-mail, and blogs. Sedangkan Nashiela (http://www.cikgu.net.my) menyebutkan TIK adalah suatu teknologi ysng digunakan untuk memproses, mengolah, menyimpan, mempresentasikan, dan memindahkan data atau informasi dalam bentuk elektronik.

E. Beberapa Penelitian tentang pemanfaatan TIK dalam pembelajaran Matematika
Terkait TIK dengan pembelajaran Matematika, beberapa penelitian menyebutkan tentang dampak positif penggunaan teknologi ini, meski tidak menutup mata akan dampak lainnya. Teknologi yang hampir lebih dari sepuluh tahun terkahir (dan masih terus berkembang), secara umum beberapa manfaat itu antara lain sebagai berikut. Pertama, ICT memungkinkan siswa untuk belajar dari judgemental and impartial (Wahyudi, 2008). Melalui komputer siswa dapat menyusun konjektur mereka sendiri, mengujinya dan memodifikasi gagasannya. Kedua, ICT memungkinkan siswa untuk dapat menghasilkan beberapa contoh dalam mengeksplorasi problem solving. Hal ini mendukung pada observasi pola dan menyusun suatu keputusan generalisasi. Ketiga, ICT membantu siswa untuk melihat pola dan keterhubungannya. Komputer memungkinkan untuk menayangkan dalam tabel dari bilangan dan grafik yang terkait. Keempat, penggunaan ICT memungkinkan siswa untuk bekerja pada gambar yang dinamis dan manipulatif, dan ini tidak bisa dilakukan oleh pembelajaran konvensional. Kelima, dengan komputer memungkinkan siswa untuk bekerja pada data riil yang dapat direprestasikan secara cepat dan mudah. Hal ini akan membimbing siswa pada interpretasi data dan berpikir high order thinking
Ittigson dan Zewe (dalam Wahyudi, 2008) menyebutkan TIK dapat meningkatkan cara bagaimana Matematika harus diajarkan dan meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep dasar. Becta (2003) meringkas bahwa kunci utama dari TIK pertama adalah mempromosikan kolaborasi yang lebih besar di antara siswa dan meng-initiasi untuk berkomunikasi dan berbagi pengetahuan. Kedua, TIK memberikan feedback yang cepat dan akurat serta memberikan kontribuasi yang positif bagi motivasi yang positif. Ketiga, penggunaan TIK dalam pembelajaran Matematika memungkinkan bagi siswa lebih focus pada strategi dan interpretasi jawaban dari pada menggunakan waktu yang banyak untuk komputasi semata. Keempat, TIK mendukung pada pedagogi konstruktivis (constructivist pedagogy).
Secara keseluruhan, pemanfaatan ICT dalam pendidikan antara lain adalah sebagai berikut (http://www.depdiknas.go.id/sikep/Issue/)
a. Penelusuran dan pencarian informasi/referensi, bahan pustaka ; search engine; yahoo.google, infoseek, altavista, dsb.
b. Pembuatan Program Artificial Intelligence/kecerdasan huatan; untuk memodelkan sebuah rencana pembelajaran; CDR ROM, multimedia, dsb.
c. Memberikan kebudahan untuk meng-akses virtual classroom, virtual university, teleconferencem distnace learning, sb.
d. Pemasaran dan promosi hasil penelitian

F. Inovasi pembelajaran matematika dengan pemanfaatan komputer (program Microsoft Office)

1). Program Aplikasi dalam Administrasi
Dalam bidang pendidikan, awalnya pemanfaatn masih terbatas dalam bidang administrasi saja, dan belum merambah bidang instruksional. Beberapa program aplikasi komputer yang biasa dipergunakan pada bidang administrasi tersebut di antaranya adalah:
1. Word processor (program pengolah kata)
Word processor adalah sebuah program komputer yang didesain untuk keperluan pengolahan kata (tulis menulis/pengetikan) yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas kemudahan untuk mengeditnya (seperti mengubah-ubah bentuk maupun ukuran huruf, tata letak, dan sebagainya) sesuai dengan keperluan. Program wordprocessor saat ini yang biasa digunakan di sekolah untuk pengetikan persuratan/naskah-naskah adalah Microsoft Word. Namun demikian, sebenarnya sudah banyak software word processor yang tersedia untuk digunakan dalam pengetikan naskah matematika. Beberapa software tersebut adalah Scientific Workplace, Miktex 2.8, LYX, Maxima, Open Office. Software-software tersebut beberapa diantaranya dapat diunduh secara gratis melalui internet.
2. Spreadsheet
Spreadsheet adalah salah satu program komputer yang didesain untuk keperluan pengolahan angka. Program yang sering dipakai di sekolah adalah seperti Lotus maupun Microsoft Excel. Program ini biasa digunakan untuk membantu administrasi seperti yang berkaitan dengan pengolahan data/angka maupun pembuatan grafik. Contoh pemakaian diantaranya adalah untuk pengelolaan administrasi keuangan, daftar inventaris barang, daftar hadir siswa, pengelolaan nilai siswa, maupun pembuatan data/grafik sekolah yang berkaitan dengan siswa, guru, dan karyawan.
3. Database
Database adalah sebuah program komputer yang didesain untuk keperluan pengelolaan data/informasi (untuk mengorganisasikan data maupun informasi yang dimiliki). Dengan program ini semua data/informasi yang dimiliki sekolah setelah dimasukkan akan dapat digunakan/diakses lagi sesuai dengan keperluan. Salah satu contoh penerapannya, program ini dapat dipergunakan untuk mengelola data informasi yang berkaitan dengan siswa. Program database yang sering digunakan di sekolah adalah seperti Microsoft Access.

2). Program Aplikasi dalam bidang Instruksional
Perkembangan teknologi telah menjadikan komputer tidak saja hanya bermanfaat
pada bidang administrasi saja melainkan juga pada bidang instruksional (Wijaya, 2009). Dengan kata lain komputer tidak hanya dijadikan sebagai alat pengganti mesin ketik saja (untuk pengetikan surat-surat/naskah) tetapi dapat juga digunakan untuk membantu proses kegiatan belajar mengajar (sebagai media pembelajaran). Beberapa kelebihan komputer seperti yang diuraikan di awal yaitu dalam hal animasi, warna, jenis dan bentuk teks, audio, maupun videonya, dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi siswa. Oleh karena itu, akhir-akhir ini komputer telah mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Apalagi ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang dibantu komputer dikenal dengan nama Computer Assited Instruction (CAI). Prinsip pembelajaran ini menggunakan komputer sebagai alat bantu menyampaikan pelajaran kepada user secara interaktif. Pembelajaran CAI menggunakan komputer secara langsung untuk menyampaikan isi pelajaran kepada siswa, memberikan latihan dan mengetes kemajuan belajar siswa. CAI juga bermacam-macam bentuknya bergantung kecakapan pendesain dan pengembang pembelajarannya, bisa berbentuk permainan (games), mengajarkan konsep-konsep abstrak yang kemudian dikonkritkan dalam bentuk visual dan audio yang dianimasikan. Jadi CAI adalah penggunaan komputer sebagai alat bantu dalam dunia pendidikan dan pengajaran. CAI membantu siswa memahami suatu materi dan dapat mengulang materi tersebut berulang kali sampai ia menguasai materi itu. Menurut Heinich dan kawan-kawan, bentuk-bentuk
penerapan aplikasi CAI dalam pembelajaran dapat dipergunakan sebagai tutorial,
drill & practice, games/edutainment, mindtools, dan simulation (Nurita, 2007).
Dalam kaitannya dengan aplikasi komputer di bidang instruksional (pengajaran),
Robert Taylor membagi penggunaan komputer kedalam tiga kategori yaitu:
komputer sebagai “tutor, tool, dan tutee” (Picciano,1998).

a. Komputer sebagai Tutor (Tutor Applications)
Dalam kategori ini, komputer memiliki informasi dan mengontrol lingkungan belajar. Komputer telah dirancang/diprogram terlebih dahulu. Pada umumnya program-program komputer ini akan memberikan/menyediakan beberapa informasi/materi, latihan, dan evaluasi. Dengan menggunakan program ini memungkinkan siswa untuk mempelajarinya dan memberikan respon atau tanggapan jika terdapat pertanyaan yang perlu dijawab siswa. Selanjutnya komputer kembali merespon/mengevaluasi terhadap jawaban siswa tersebut ataupun memberikan tambahan informasi baru. Dalam kategori komputer
sebagai tutor ini terbagi menjadi empat subkategori yaitu:
a. Tutorial
Pada subkategori ini, program yang dibuat sudah dirancang untuk dapat memberikan informasi/materi bagi siswa. Artinya, guru tanpa menerangkan terlebih dahulu terhadap suatu materi, siswa diharapkan dapat memahaminya sendiri dengan menggunakan program tutorial tersebut (dapat digunakan sebagai sarana belajar mandiri siswa).


Pada contoh software tersebut, disamping siswa dapat mempelajari materi tentang kubus, balok, dan limas, siswa juga dapat menggunakannya untuk latihan maupun evaluasi. Contoh software tersebut dapat diunduh melaluisitusnya www.e-dukasi.net.
b. Latihan (drill and practice)
Dalam subkategori ini biasanya program yang dibuat adalah untuk penguatan dalam penguasaan materi yang sebelumnya sudah diberikan terlebih dahulu kepada siswa. Salah satu contoh sofware dalam kategori ini adalah TheArithmAttack seperti tampak pada gambar 2 dan gambar 3.






Software ini dapat digunakan untuk melatih keterampilan siswa dalam melakukan operasi hitung. Selama 60 detik siswa diberikan beberapa soal berkitan dengan operasi hitung bilangan. Soal akan berganti-ganti secara acak. Jawaban siswa baik benar maupun salah langsung direspon secara langsung oleh komputer.
c. Simulasi
Program komputer pada subkategori ini biasanya digunakan untuk merepresentasikan (mensimulasikan) situasi kehidupan nyata menggunakan komputer. Pada umumnya situasi kehidupan nyata atau obyek yang disimulasikan adalah sesuatu yang tidak mungkin dihadirkan (disajikan) pada sebagian besar kelas. Ketidakmungkinan ini bisa dikarenakan mengandung suatu resiko yang terlalu besar atau memerlukan biaya yang mahal.
Contoh:
Gambar 4. Tampilan interaktive atmosphere simulator

d. Permainan dan pemecahan masalah (game and problem solving)

Pada subkategori ini, program komputer yang dibuat disajikan dalam bentuk permainan dengan tujuan untuk membuat siswa belajar/berlatih sambil bermain sehingga harapannya menyenangkan bagi siswa. Dalam program permainan tersebut dapat juga didesain dengan menggabungkan model pemecahan masalah untuk menyelesaikannya, sehingga dapat membantu meningkatkan daya pikir siswa.
Contoh:

Teka-teki galon air di atas dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam melatih ketrampilan pemecahan masalah. Sedangkan pada permainan Bintang Ajaib siswa diminta untuk mengisikan bilangan yang ada pada bagian sebelah kanan sehingga sesuai dengan pernyataan pada bagian kiri.

b. Komputer sebagai Alat (Tool Applications)

Dalam kategori ini, komputer digunakan untuk membantu atau melakukan tindakan sebagai sebuah alat di dalam kegiatan pembelajaran. Komputer sebagai alat di sini dimaksudkan bahwa komputer digunakan sebagai alat bantu dalam proses kegiatan belajar mengajar, baik untuk kepentingan guru maupun siswa. Program-program aplikasi komputer yang biasa digunakan di sekolah di antaranya adalah program pengolah kata seperti Ms Word untuk pengetikan bahan ajar/pembuatan laporan; program pengolah angka (seperti Ms Excel) untuk melakukan manipulasi angka-angka/perhitunganperhitungan/ pembuatan grafik; dan program untuk keperluan presentasi (seperti Ms PowerPoint).

Selain program-program tersebut di atas, dengan berkembangnya penggunaan jaringan dan internet di sekolah-sekolah, komputer yang sudah terhubung jaringan maupun akses internet juga dapat dipergunakan sebagai alat/media untuk mencari informasi dan komunikasi pembelajaran. Pemanfaatan Internet sebagai media informasi sumber belajar dan komunikasi akan dibahas pada modul lain secara tersendiri. Demikian pula adanya program bantu dan aplikasi matematika seperti: Matlab, Maple, QuickMath, GeoGebra,
SketchPad, dan Cabri dapat dipergunakan untuk membantu dalam menyelesaikan soal-soal matematika secara cepat maupun untuk menjelaskan materi-materi tertentu secara interaktif. Pada contoh-contoh software di atas beberapa di antaranya didapat/diunduh melalui internet (contoh tutorial/latihan dan simulasi pada gambar 1, 2, 3, dan 4).


c. Komputer sebagai Tutee (Tutee Applications)
Dalam subkategori ini, komputer itu sendiri yang menjadi fokus dari pembelajarannya karena di sini siswa ataupun guru membutuhkan untuk mempelajari bagaimana memprogram komputer (memberikan perintahperintah) dengan menggunakan bahasa pemrograman tertentu untuk melakukan tugas-tugas yang dikehendaki. Untuk tutee applications ini baik guru maupun siswa memerlukan suatu bahasa pemrograman. Mempelajari bahasa pemrograman adalah salah satu cara terbaik untuk membangun sebuah pemahaman bagaimana komputer bekerja. Contoh bahasa pemrograman yang biasa digunakan adalah seperti BASIC (Beginners All-Purpose Symbolic Instruction Code), Pascal, Delphi, Macromedi Flash, dan sebagainya.

3). Program-program Aplikasi Microsoft Office

a. Microsoft Word
Merupakan salah satu program pengolah kata yang dapat digunakan untuk membantu penyiapan/pembuatan naskah bahan pelajaran (modul) termasuk pembuatan lembar kerja siswa (LKS) atapun soal-soal latihan/ulangan untuk siswa. Dengan menggunakan fasilitas symbol, equation editor, dan drawing pada Microsoft Word dapat digunakan untuk mengetik naskah-naskah yang memakai simbol-simbol matematika maupun bangun-bangun ruang yang memerlukan suatu arsiran tertentu seperti pada gambar 6 berikut:

Pada gambar 7 di bawah adalah contoh lain penggunaan Ms Word sebagai media pembuatan bahan ajar dalam bentuk softcopy (CD atau web).

Untuk mempelajari materi Himpunan siswa tinggal mengklik Play kemudian memilih (dengan mengklik) bagian mana yang akan dipelajari seperti pada gambar 8 berikut ini.


b. Microsoft Excel
Dengan menggunakan fasilitas formula dan grafik pada Microsoft Excel dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat soal-soal latihan interaktif ataupun melakukan investigasi (penyelidikan) terhadap suatu kasus tertentu seperti untuk menentukan arah kecondongan garis (gradien), menentukan kedudukan dua buah garis (berpotongan atau sejajar), ataupun untuk menentukan bentuk grafik persamaan kuadrat (terbuka ke atas atau ke bawah). Contoh penggunaan spreadsheet di atas dapat dilihat seperti pada gambar 9 dan 10 berikut.


Sumber-sumber untuk mempelajari Ms Excel saat ini sudah tersedia cukup banyak, baik berupa buku-buku panduan yang tersedia di toko-toko buku maupun panduan-panduan belajar yang dapat diunduh melalui internet. Salah satu situs yang berisi panduan belajar Ms Excel dapat dilihat di alamat www.unisri.ac.id/pangan/images/kuliah/modul-excel.pdf. Situs-situs yang lain dapat dicari melalui internet dengan mengetikkan kata kunci ”belajar Ms Excel” menggunakan fasilitas mesin pencari pada yahoo, google, atau yang lainnya.

c. Microsoft PowerPoint

Microsoft PowerPoint merupakan salah satu program aplikasi komputer yang banyak digunakan sebagai media untuk presentasi. Dengan mengoptimalkan fasilitas-fasilitas yang ada seperti fasilitas animasi, suara, maupun hyperlink, program ini dapat dipergunakan untuk menyajikan suatu bahan pelajaran yang menarik bagi siswa. Bagong Gung Haryanto, guru matematika SMPN 20 Malang mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya mengajar matematika dengan menggunakan media komputer (program Microsoft PowerPoint) respon siswanya sangat positif, siswa merasa senang dan atusiasmenya sangat bagus. Sehingga Bagong mencobakan pelajaran matematika setiap satu minggunya 2 jam pelajaran dengan menggunakan media komputer (Kompas, 2004). Contoh penggunaan program aplikasi Ms PowerPoint adalah model pembelajaran untuk menjelaskan bidang diagonal (gambar 11) dan jaringjaring kubus (gambar 12).



Dengan memanfaatkan fasilitas animasi yang ada pada program Ms PowerPoint, model jaring-jaring kubus seperti pada gambar 12 tersebut di atas jika dijalankan akan terlihat jelas bagaimana proses terbentuknya. Sumber-sumber untuk mempelajari Ms PowerPoint saat ini sudah tersedia cukup banyak, baik berupa buku-buku panduan yang tersedia di toko-toko buku maupun panduan-panduan belajar yang dapat diunduh melalui internet.
Salah satu situs yang berisi panduan belajar Ms PowerPoint dapat dilihat di alamat www2.ukdw.ac.id/kuliah/si/SI4012/materi/pp.pdf. Situs-situs yang lain dapat dicari melalui internet dengan mengetikkan kata kunci ”belajar PowerPoint” menggunakan fasilitas mesin pencari pada yahoo, google, atau yang lainnya.

d. Microsoft FrontPage

Microsoft FrontPage merupakan salah satu dari beberapa program aplikasi yang dapat digunakan untuk mendesain sebuah web. Program ini sudah dirancang agar mudah digunakan bagi para pemakai komputer tingkat pemula sekalipun karena tidak menggunakan bahasa Hypertext Markup Language (HTML). Oleh karena itu, dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang dimiliki dalam Ms FrontPage, program ini dapat digunakan untuk mendesain suatu model pembelajaran yang berbasis web. Artinya dapat dimanfaatkan untuk membuat atau menyediakan sumber informasi belajar bagi siswa.

Sumber-sumber informasi (pelajaran) yang dibutuhkan dapat diambil dari internet ataupun dibuat sendiri dengan menggunakan program-program aplikasi lainnya seperti Ms Word, Ms Excel, Ms PowerPoint, maupun program lainnya. Dari sumber-sumber informasi yang sudah terkumpul/tersedia, dengan menggunakan fasilitas hyperlink pada Ms FrontPage tinggal dibuatkan menu utamanya (semacam daftar isinya) sehingga siswa nantinya tinggal memilih (dengan mengklik) materi mana yang mau dipelajari. Dengan demikian siswa sendiri nantinya yang akan menentukan tingkat kecepatan belajarnya.
Desain seperti Sumber Belajar Matematika Kelas VII SMP (gambar 13) yang nantinya berisi sumber-sumber belajar untuk semua materi pokok pada kelas VII berikut evaluasinya adalah merupakan salah satu contoh model pembelajaran menggunakan program Ms FrontPage.

4). Program-program Bantu Lainnya (Bahasa Pemrograman)

a. Program Delphi

Program Delphi merupakan pengembangan awal dari program Pascal atau Turbo Pascal yang setiap saat akan selalu berkembang dengan versi terbarunya. Delphi merupakan program aplikasi database berbasis Windows yang dikembangkan oleh Borland. Saat ini Delphi telah menjadi bahasa pemrograman pilihan programer dan sudah menyebar kemana-mana. Delphi dipilih karena memiliki beberapa kemampuan, seperti kompilasi yang cepat, dukungan terhadap pemrograman database yang sangat baik, dan sangat dekat sekali dengan pemrograman Windows beserta teknologi komponenkomponennya (Wijaya, 2009). Kelebihan lain Delphi antara lain juga mempunyai kemampuan untuk menggunakan bahasa Structured Query Language (SQL) yang merupakan bahasa query handal. Salah satu contoh model pembelajaran menggunakan program Delphi seperti pada gambar 14 berikut:


Pada contoh software tersebut, pada setiap tombolnya jika diklik akan menuju ke menu lainnya. Software yang dibuat menggunakan program Delphi seperti contoh di atas biasa dilengkapi dengan soal latihan sehingga lebih interaktif karena siswa dapat memasukkan input secara langsung dan komputer akan memberikan umpan balik dengan seketika juga. Oleh karena itu, program Delphi sangat cocok untuk membuat model pembelajaran yang memfokuskan pada pemberian latihan (drill and practice). Saat ini sudah banyak buku penuntun belajar program Delphi yang sudah disertai dengan CD tutorialnya sehingga bagi guru matematika yang ingin mempelajari lebih lanjut bukan merupakan suatu hambatan lagi.

b. Program Macromedia Flash

Macromedia Flash MX adalah salah satu dari program aplikasi pembuat animasi yang sangat dinamis dan interaktif. Program ini telah dipakai secara luas oleh para profesional web ataupun animator karena kemampuannya yang mengagumkan dalam menampilkan multimedia, gabungan antara grafis, animasi, suara serta interaktivitas bagi pemakai. Program aplikasi ini juga telah banyak dipakai untuk membuat animasi yang digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti dalam pembuatan isi multimedia, perancangan situs-situs web, advertising, film, pendidikan, dan lain-lain. Macromedia Flash MX merupakan perkembangan dari versi Macromedia Flash sebelumnya. Salah satu contoh model pembelajaran menggunakan program Macromedia Flash seperti pada gambar 15 berikut:

Dengan mengoptimalkan fasilitas seperti animasi, suara, jenis huruf maupun warna, software yang dibuat dengan program Macromedia Flash ini akan terasa lebih menarik bagi siswa. Untuk mempelajari program Macromedia Gambar 15. Contoh software pembelajaran matematika produksi PPPPTK Matematika dengan materi pokok penemuan rumus luas persegi panjang. Flash ini juga sudah banyak buku penuntun belajar yang sudah disertai dengan CD tutorialnya sehingga bagi guru matematika yang ingin mempelajari lebih lanjut bukan merupakan suatu hambatan.

G. Penutup

Seiring dengan bergesernya paradigma pendidikan dari behaviorism ke constructivism, bersamaan itu pula kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyertainya. Kemampuan komputer dengan kecepatan dalam pemrosesan data, immediate feedback, serta kemampuan text, video, animasi, dan grafis-nya memungkinkan multimedia ini membawa pengaruh dalam inovasi pembelajaran matematika yang lebih dinamis, aktif dan bernuansa PAKEM, dalam perspektif standar proses pendidkan kita. Memang, upaya inovasi pembelajaran dengan pemanfaatan TIK ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, infrastruktur, hardware, software, maupun softskill pendukungnya. Ini berarti kolaborasi dan komitment yang tinggi dibutuhkan dari para stakeholders sekolah/pendidikan setempat dalam mewujudkannya. Di saat yang bersamaan, pembelajaran konvensional bukan tidak mungkin masih dibutuhkan meski digital era-ini tengah bergerak massive. Keterbatasan fasilitas, sumber daya manusia (SDM) perlu diakomodir dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. Di sinilah dituntut kecerdasan guru dalam pemilihan strategi dan materi yang tepat untuk di-TIK-kan atau yang tidak harus di TIK-kan. Di samping itu, antisipasi mental yang proaktif, kritis, dan obyektif harus ditumbuhkankembangkan dalam menyikapi dampak yang mungkin timbul dari global communication di cyberspace saat ini. Bagaimanapun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi guna peningkatan kualitas pendidikan bagi kemajuan anak bangsa ini harus tetap berpijak pada jati diri bangasa yang adi luhung. Semoga!
***RinginMasAwlJan010*rachmadiw@yahoo.com**
Referensi

Ditjend Dikdasmen, 1995. Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Matematika SMU, Jakarta
: Depdikbud.

Ebbut, S & Straker, A. 1995. Children and Mathematics : Mathematics in Primary
School, Part 1 London, Collins Educational

Hadi, Sutarto, 2000. Teori Matematika Realistik – The Second Tryout of RME – Based
INSET 2000. Nederland : University of Twente

Nur, Mohamad dan Kardi, Soeparman ,2000. Pengajaran Langsung, Surabaya, Pusat
Sains dan Matematika Sekolah Program Pasca Sarjana Unesa, University Press.

Nurita Putranti. 2007. Komputer Sebagai Alat Bantu Pembelajaran.
http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/08/23/komputer-sebagai-alat bantupembelajaran/. diakses pada 29 September 2009

Picciano,A.G. 1998. Educational Leadership and Planning for Technology, second
edition. New Jersey (USA):Prentice-Hall, Inc.

Satria Wahono, Romi, 2008 Bagaimana Memanfaatkan E-learning untuk Meningkatkan Pembelajaran Matematika dan Pemecahan Masalah Pendidikan Matematika, Makalah disampaikan Seminar dan Lokakarya Pembelajaran Matematika di PPPPTK Matematika Yogyakarta 11 – 12 Juni 2008

Widdiharto, Rachmadi, 2008. Pembelajaran Matematika berbasis ICT, Bahan Ajar Diklat Jenjang Dasar SMP, PPPPTK Matematika Yogyakarta.

Wahyudi, 2008 What does research say on the use of ICT to improve the teaching and learning of mathematics. Makalah disampaikan Seminar dan Lokakarya Pembelajaran Matematika di PPPPTK Matematika Yogyakarta 11 – 12 Juni 2008

Wijaya, Adi 2009, Pemanfaatan Komputer sebagai Media Pembelajaran Matematika, Modul Bermutu. PPPPTK Matematika Yogyakarta.

Wardhani,Sri 2002. Pembelajaran Matematika yang Kontekstual, Yogyakarta, Bahan
Ajar Diklat Jenjang Dasar SMP, PPPG Matematika.

Seminar Nsional

PENULISAN KARYA ILMIAH
Oleh : Drs. Sanusi, M.Pd.
Disampaikan pada Seminar Nasional, IKIP PGRI Madiun, 17 Januari 2010

Menulis adalah kegiatan yang memberdayakan diri sendiri dan orang lain. Karena ide, pemikiran, hal baru, sejarah, cerita dapat disampaikan kepada orang lain secara lebih luas melalui media salah satunya adalah tulisan. Kesempatan besar untuk menyebarkan ide dan pemikiran perlu didukung dengan kemampuan menuliskan dan menyampaikan dalam bentuk tulisan secara baik. Hal ini berarti ide yang tertulis dapat ditangkap, dan dimengerti oleh audiens yang dituju. Ide dan pemikiran yang dicurahkan dalam tulisan perlu ditetapkan tujuannya, baik itu tujuan menulis, dan kepada siapa tulisan ini ditujukan. Dengan demikian, penggunaan bahasa, istilah, dan ide yang akan disampaikan harus sesuai.
Mahasiswa selayaknya terlatih untuk menulis sejak sekolah dasar dan menengah. Bekal ini akan berguna di bangku kuliah ketika mereka dituntut melakukan analisis, dan berpikir kritis. Hasil pengamatan dan analisis kemudian dituangkan dalam tulisan yang bersifat ilmiah. Memang ada jenis tulisan yang tidak ilmiah, tetapi dalam kerangka akademik, mahasiswa diberdayakan untuk menulis karya tulis ilmiah. Dalam proses menuliskan karya ilmiah beberapa hal yang sering kali menjadi tantangan besar adalah mendapatkan ide tulisan, menentukan permasalahan yang akan dianalisis dan diselesaikan, menggunakan istilah yang tepat, membangun kalimat dan memanfaatkan tampilan visual yang menyatu dengan tulisan.
Pertanyaan yang harus dijawab, Apakah karya tulis ilmiah itu?, Secara garis besar karya tulis ilmiah dapat diartikan sebagai karya tulis (tulisan) tentang ilmu pengetahuan yang disusun menurut tata tulis tertentu. Banyak orang merasa bahwa menulis itu sangat menbosankan, sebab mereka merasa bahwa menulis itu merupakan pekerjaan yang sia-sia, akan tetapi mulai sekarang mari kita hilangkan perasaan itu sebab banyak cara untuk membuat anda tertarik akan menulis.
Tidak ada yang menangkal bahwa menulis adalah sesuatu yang penting, sebab tulisan dapat mengungkapkan pesan menulis, dan mengekspose pikiran-pikiran serta gagasan-gagasannya. Keterampilan menulis mutlak sangat diperlukan untuk menulis diktat, rekomendasi, bulletin, pamflet, koran, majalah dan sebagainya. Tetapi tidak sedikit orang yang enggan menulis dengan dalih kesulitan, atau menganggap bahwa menulis adalah hobi dan bakat yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Seorang penulis terkemuka berkata, “Jika ada penulis besar mengatakan bahwa menulis adalah bakat, maka penulis yang lain mengatakan bahwa faktor bakat sesungguhnya hanya berperan 10% segi keterampilan menulis. Sedangkan 90% lainnya merupakan hasil dari latihan menulis yang dilakukan dengan tekun dan tidak mengenal lelah.”
Akhir-akhir ini sering kita temui banyak teman-teman guru, para mahasiswa yang masih banyak belum mengetahui sistematika penulisan karya tulis ilmiah. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, mari kita bersama-sama mempelajari bagaimanakah sistematika penulisan karya tulis ilmiah itu. Semoga dalam kesempatan ini dapat bermanfaat untuk teman-teman guru di seluruh Indonesia yang saat ini hendak mengusulkan dirinya untuk naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi.
Kadang kala kita sering bingung bagaimana cara menulis sebuah karya tulis.Hal tersebutlah yang membuat kita jadi malas untuk menulis. Akan, tatapi mulai sekarang anda jangan khawatir sebab mulai sekarang akan sama-sama kita pelajari bagaimana cara penulisan sebuah karya tulis yang baik dan benar.
Ilmu pengetahuan hampir selalu terkait dengan penelitian yang dapat disampaikan melalui karya tulis ilmiah, sedang bentuk karya tulis kadang seperti suatu karangan yang dibedakan :
Emotive prose (karya sastra) Fiksi (cerita)
Karangan
Scientific prose (karya tulis ilmiah) Non fiksi (bukan cerita)

A. Bentuk-bentuk Karangan Ilmiah

1. Karya Tulis : Sifatnya Umum, biasanya merupakan karya ilmiah populer
2. Paper : dibuat berdasarkan kajian pustaka
3. Makalah : dibuat untuk dipresentasikan dalam suatu seminar, pertemuan ilmiah atau simposium/ lokakarya
4. Laporan : dibuat berdasarkan hasil penelitian/ pengamatan
5. Skripsi : merupakan hasil penelitian/hanya kajian pustaka (syarat jenjang S-1)
6. Tesis : merupakan hasil penelitian (jenjang S-2)
7. Disertasi : untuk jenjang S-3/gelar keahlian tertinggi
8. Diktat : tulisan dari dosen yang mengasuh suatu mata kuliah tertentu
9. Jurnal : berisi hasil-hasil penelitian, yang terbit berkala, dari bulanan sampai dengan tahunan
10. Buletin : berisi karangan ilmiah, resensi buku-buku baru, berita acara seminar/lokakarya/pertemuan ilmiah
11. Referant : karya tulis yang berisi pembahasan studi pustaka dan bukan hasil penelitian

B. Karya tulis ilmiah ada 2 macam, yaitu:
1. Tulisan Ilmiah Populer
a. Sasarannya masyarakat umum/awam
b. Kata-katanya sederhana, mudah diidentifikasi dan dipahami
c. Tidak memuat hipotesis
d. Isi dan judul harus informatif dan mudah ditangkap maksudnya
2. Tulisan Ilmiah Murni
a. Fakta obyektif dan bisa dipertanggungjawabkan
b. Kata-katanya mudah dipahami dan diidentifikasi
c. Mengikuti aturan dan bahasa indonesia yang benar
d. Isi karangan singkat, jelas dan padat
e. Hindari kata-kata asing, kecuali memang belum ada terjemahannya
f. Masalah yang diungkapkan harus jelas dan jangan banyak teori

C. Karya tulis ilmiah dapat dilihat dari, Status (siapa yang menulis?) dan Tujuan Subjektif, bisa berupa :
1. Laporan
a. Laporan teknik survei /eksperimen /partisipasi)
b. Laporan penelitian (hasil pengkajian literatur dan pendekatan empiris)
2. Buku teks (text books) buku untuk dipelajari yang isinya kumpulan teori suatu ilmu
3. Kertas kerja
4. Makalah
5. Skripsi
6. Tesis
7. Disertasi

D. Cara penyajian/pemaparan Karya Tulis Ilmiah
1. Naratif : Bentuknya narasi hasilnya kisahan
2. Deskriptif : Bentuknya deskripsi hasilnya uraian
3. Eksposisi : Bentuknya eksposisi hasilnya paparan
4. Argumentasi : Bentuknya argumentasi hasilnya bahasan

E. Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah
Versi Depdiknas Untuk Kenaikan Pangkat


1. Laporan Hasil Penelitian :
A. Bagian Pembuka :
Halaman judul.
Lembar pengesahan.
Kata pengantar.
Daftar isi.
Daftar Lampiran.

B. Bagian Isi :
Bab I Pendahuluan
a. Latar belakang masalah.
b. Rumusan masalah.
c. Tujuan penelitian.
d. Manfaat penelitian.
Bab II Kajian teori atau tinjauan kepustakaan
a. Pemahasan teori
b. Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
c. Pengajuan hipotesis
Bab III Metodologi penelitian
a. Waktu dan tempat penelitian.
b. Metode dan rancangan penelitian
c. Populasi dan sampel.
d. Instrumen penelitian.
e. Pengumpulan data dan analisis data.
Bab IV Hasil Penelitian
a. Jabaran varibel penelitian.
b. Hasil penelitian.
c. Pengajuan hipotesis.
d. Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang didapatnya.
Bab V Kesimpulan dan saran

C. Bagian penunjang
Daftar pustaka.
Lampiran- lampiran antara lain instrument penelitian.

2. Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK):
A. Bagian Pembuka :
Halaman judul.
Lembar pengesahan.
Kata pengantar.
Daftar isi.
Daftar Lampiran.

B. Bagian Isi :
Bab I Pendahuluan
a. Latar belakang masalah.
b. Identifikasi masalah.
c. Pembatasan dan rumusan masalah.
d. Tujuan penelitian.
e. Manfaat hasil penelitian.
Bab II Kajian pustaka
a. Kajian teori.
b. Kajian hasil penelitian.
Bab III Metodologi / Metode penelitian
a. Objek tindakan.
b. Setting/Lokasi/Subjek penelitia.
c. Metode pengumpulan data.
d. Metode analisis data.
e. Cara pengambilan kesimpulan.
Bab IV Hasil Penelitian
a. Gambaran selintas tentang setting.
b. Uraian penelitian secara umum – keseluruhan.
c. Penjelasan per siklus.
d. Proses menganalisa data.
e. Pembahasan dan pengambilan kesimpulan.
Bab V Kesimpulan dan saran
a. Kesimpulan.
b. Saran untuk tindakan lebih lanjut.

C. Bagian penunjang/penutup
Daftar pustaka.
Lampiran- lampiran.

3. Tinjauan/Ulasan Ilmiah Hasil Gagasan Sendiri :
A. Bagian Pendahuluan :
Halaman judul.
Lembar pengesahan.
Kata pengantar.
Daftar isi.
Abstrak.

B. Bagian Isi :
Bab I : Pendahuluan uraian mengenai hal yang dipermasalahkan.
Bab II: Kajian teori dan fakta mengenai hal yang dipermasalahkan.
BabIII: Tinjauan/ulasan.
Bab IV: Kesimpulan.

C. Bagian penunjang :
Daftar pustaka.
Lampiran- lampiran.

4. Buku
A. Bagian Pendahuluan
Kata pengantar
Daftar isi
Penjelasan tujuan buku pelajaran
Petunjuk penggunaan buku
Petunjuk pengerjaan soal latihan

B. Bagian isi
1. Judul bab atau topic isi bahasan
2. Uraian singkat isi pokok bahasan
3. Penjelasan tujuan bab
4. Uraian isi pelajaran
5. Penjelasan teori
6. Sajian contoh
7. Ringkasan isi bab
8. Soal latihan
9. Kunci jawaban soal latihan

C. Bagian penunjang
Daftar pustaka
Lampiran-lampiran


5. MODUL :
Judul
Pengantar
Petunjuk penggunaan modul
Yujuan umum pembelajaran
Kemampuan prasyarat
Pretest
Tujuan khusus pembelajaran
Isi bahasan
Kegiatan belajar
Rangkuman
Tes
Sumber media yang digunakan
Tes akhir dan umpan balik
Rancangan pengajaran
Daftar pustaka

6. DIKTAT PELAJARAN:
A. Bagian Pendahuluan :
Halaman judul.
Kata pengantar.
Daftar isi.
Penjelasan tujuan diktat pelajaran.

B. Bagian Isi :
- Judul bab atau topik isi bahasan.
- Penjelasan tujuan bab.
- Uraian isi pelajaran.
- Penjelasan teori.
- Sajian contoh.
- Soal latihan.

C. Bagian penunjang :
Daftar pustaka.
Lampiran- lampiran.


Sistematika Laporan Karya Ilmiah
(Secara Umum dari penelitian)
Bagian awal
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL (JIKA ADA)
DAFTAR GAMBAR (JIKA ADA)
DAFTAR LAMPIRAN
Bagian inti
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Identifikasi masalah
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah
D. Hipotesis (Jika ada)
E. Tujuan penelitian
F. Manfaat hasil penelitian
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian teori
B. Kajian hasil penelitian terdahulu
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek/lokasi/subjek penelitian
B. Metode dan desain penelitian
C. Teknik pengumpulan data
D. Teknik analisis data
BAB IV : PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi data penelitian
B. Hasil analisa data
C. Penafsiran hasil analisis data
D. Simpulan pengujian hipotesis (jika ada)
BAB IV : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Bagian akhir
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran


BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam bagian ini, berisi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada obyek yang akan diteliti, tetapi peristiwa-peristiwa itu nampaknya ada penyimpangan dari standar keilmuan (teori). Penyimpangan ini perlu ditunjukkan dengan bukti yang valid. Dengan demikian peneliti perlu menjelaskan secara teoritik mengapa fenomena itu dikatakan masalah dan mengapa penting untuk diteliti. Dalam bagian ini, setelah peneliti menemukan masalah, sumber masalah serta menjelaskan secara teoritik mengapa dikatakan masalah, peneliti perlu menjelaskan secara singkat beberapa konsep atau teori atau temuan penelitian, yang menjelaskan beberapa faktor mengapa masalah itu bisa terjadi. Dari sini peneliti akan menemukan variabel-variabel independen
Identifikasi Masalah
Apabila peristiwa-peristiwa yang terjadi pada obyek yang akan diteliti, jumlahnya banyak, peneliti harus melakukan identifikasi masalah. Dalam bagian ini, semua masalah/peristiwa yang ada pada obyek penelitian harus dikemukakan, baik masalah/peristiwa yang diteliti maupun yang tidak diteliti. Setelah itu peneliti harus melakukan identifikasi masalah/peristiwa yang menunjukkan adanya hubungan masalah/peristiwa satu, dengan masalah/peristiwa lain yang akhirnya menemukan variabel-variabel masalah dalam penelitian
Pembatasan dan Rumusan Masalah
Dalam bagian ini, peneliti harus menjelaskan bahwa karena keterbatasan waktu, tenaga, dan lainnya, maka penelitian sebaiknya dibatasi. Dengan demikian batasan penelitian adalah variabel-variabel dependen yang akan diteliti. Keterbatasan seringkali diperlukan agar pembaca dapat menyikapi temuan penelitian sesuai dengan kondisi yang ada. Keterbatasan penelitian menunjuk kepada suatu keadaan yang tidak bisa dihindari dalam penelitian. Keterbatasan yang sering dihadapi menyangkut dua hal. Pertama, keterbatasan ruang lingkup kajian dilakukan karena alasan-alasan prosedural, teknik penelitian, ataupun karena faktor logistik. Kedua, keterbatasan penelitian berupa kendala yang bersumber dari adat tradisi, etika dan kepercayaan yang tidak memungkinkan bagi peneliti untuk mencari yang diinginkan.
Untuk itu pada bagan ini masalah yang dibatasi perlu dirumuskan secara jelas dalam bentuk rumusan masalah
Hipotesis
Dalam bagian ini peneliti harus mengajukan beberapa hipotesis sebagai solusi masalah. Hipotesis-hipotesis harus didukung dengan referensi yang valid dan akhirnya dengan satu pilihan hipotesis sebagai solusi masalah yang didukung oleh referensi yang valid
Tujuan penelitian
Tujuan penelitian di sini tidak sama dengan tujuan yang ada pada sampul skripsi yang merupakan tujuan formal (misalnya untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana), tetapi tujuan di sini berkenaan dengan tujuan peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian.
Manfaat hasil penelitian
Pada bagian ini ditunjukkan manfaat atau pentingnya penelitian baik secara teoritis maupun praktis.

BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Kajian teori
Setiap penelitian bersifat ilmiah. Oleh karena itu setiap penelitian selalu menggunakan teori. Deskripsi teori dalam penelitian adalah teori-teori yang relevan yang menguraikan variabel yang diteliti serta sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap masalah penelitian dan sebagai dasar dalam penyusunan instrumen penelitian.
Teori yang digunakan dalam penelitian telah teruji kebenarannya secara empiris. Untuk itu diperlukan dukungan telaah pustaka hasil penelitian sebelumnya yang ada kaitannya dengan variabel yang diteliti.
Bahan-bahan telaah pustaka dapat diangkat dari berbagai sumber seperti jurnal penelitian, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian. Pemilihan bahan pustaka yang akan dikaji didasarkan pada dua kriteria, yakni (1) prinsip kemutakhiran (kecuali untuk penelitian historis) dan (2) prinsip relevansi. Prinsip kemutakhiran penting karena ilmu pengetahuan berkembang dengan cepat. Sebuah teori yang efektif pada suatu periode mungkin sudah ditinggalkan pada periode berikutnya. Dengan prinsip kemutakhiran, peneliti dapat berargumentasi berdasar teori-teori yang pada waktu itu dipandang paling representatif.

Kajian hasil penelitian terdahulu
Hal serupa berlaku juga terhadap telaah laporan-laporan penelitian. Sedangkan prinsip relevansi diperlukan untuk menghasilkan kajian pustaka yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
subjek /lokasi/ Waktu penelitian
Subyek penelitian disebutkan dengan jelas, operasional, tidak terlalu luas dan dapat dilaksanakan, lokasi/tempat penelitian disebutkan dan kapan penelitian itu dilaksanakan.
Metode dan desain penelitian
Dalam bagan ini bagaimana penelitian itu dilaksanakan, metode/desain/setting penelitian tindakan-tindakan apa yang dilakukan, dan lain-lain.
Teknik pengumpulan data
Dalam bagian ini perlu dituliskan secara jelas teknik yang digunakan dalam pengumpulan data, yang digunakan untuk merekam kegiatan penelitian. Apabila dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan diobservasi pada latar, dimana fenomena tersebut berlangsung dan disamping itu untuk melengkapi data, diperlukan dokumentasi tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subyek .

a. Teknik Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Maksud digunakannya wawancara seperti yang telah ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (1985:266) dalam kutipannya Moleong (2000:135), antara lain adalah (a)menkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebu-latan; (b)merekonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu; (c)memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang; (d)memverifikasi, mengubah dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain baik manusia maupun bukan manusia; dan atau mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.
Teknik wawancara ada bermacam-macam jenisnya. Pertama seperti yang kemukakan oleh Patton (1980:197), macam-macam teknik wawancara adalah (a)wawancara pembicaraan informal, (b)pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara, dan (c)wawancara buku terbuka. Kedua tentang macam-macam wawancara yang dikemukakan oleh Guba & Linclon (1981:160-170), yaitu: (a)wawancara oleh tim atau panel, (b)wawancara tertutup dan wawancara terbuka, (c)wawancara riwayat secara lisan dan (d)wawancara terstruktur dan takstruktur.
Sedangkan dalam penelitian ini teknik wawancara yang digunakan adalah sebagai berikut [1] Wawancara mendalam, artinya peneliti mengajukan beberapa per-tanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan fokus perma-salahan, sehingga dengan wawancara mendalam ini data-data bisa terkumpulkan semaksimal mungkin; [2] Wawancara terbuka, artinya bahwa dalam penelitian ini para sub-yeknya mengetahui bahwa mereka sedang diwawancarai dan menge-tahui pula apa maksud wawancara itu [3] Wawancara tersetruktur, artinya bahwa dalam penelitian ini, peneliti atau pewancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-perta-nyaan yang akan diajukan. Masing-masing wawancara ditulis dalam lembar rekaman sebagai terlampir dalam laporan penelitian ini.

b. Teknik Observasi
Lincoln dan Guba (1985) seperti yang dikutip Sonhaji, (1997:69) mengklasifikasikan observasi menurut 3 (tiga) cara, yaitu : pertama, pengamat dapat bertindak sebagai seorang partisipan atau non partisipan; kedua, observasi dapat dilakukan secara terus terang atau penyamaran; ketiga, observasi yang menyangkut latar penelitian. Dan dalam penelitian tindakan ini digunakan teknik observasi yang pertama, dimana pengamat bertindak sebagai partisipan.
Setiap observasi memiliki gaya yang berbeda-beda. Salah satu perbedaannya adalah derajat keterlibatan peneliti, baik dengan orang maupun dalam kegiatan yang diamati. Menurut Spradley (1980), terdapat 3 (tiga) derajat keterlibatan yaitu: pertama; tanpa keterlibatan (no invol-vement), kedua; keterlibatan rendah (low involvement), dan ketiga; keterlibatan tinggi (high involvement). Variasi ini tercermin dalam 5 (lima) tingkat partisipasi, yaitu non partisipasi (nonparticipation), patisipasi pasif (passive participation), partisipasi moderat (moderate participation), partisipasi aktif (active participation) dan partisipasi lengkap (complete participation) (Sonhaji, 1997:75). Dalam penelitian tindakan, tingkat partisipasi dalam observasi yang dilaksanakan adalah high involvement (keterlibatan tinggi), yaitu partisipasi aktif (active participation).

Pada observasi partisipan ini, peneliti mengamati aktifitas-aktifitas sehari-hari obyek penelitian, karakteristik fisik situasi sosial dan bagaimana perasaan pada waktu menjadi bagian dari situasi tersebut. Selama peneliti di lapangan, jenis observasinya tidak tetap. Hal ini dikatakan oleh Spradley (1980), peneliti mulai dari observasi deskriptif (descriptive observations) secara luas, yaitu berusaha melukiskan secara umum situasi sosial dan apa yang terjadi disana. Kemudian, setelah perekaman dan analisis data pertama, peneliti menyempitkan pengumpulan datanya dan mulai melakukan observasi terfokus (focused observations). Dan akhirnya, setelah dilakukan lebih banyak lagi analisis dan observasi yang berulang-ulang di lapangan, peneliti dapat menyempitkan lagi penelitiannya dengan melakukan observasi selektif (selective observations). Sekalipun demikian, peneliti masih terus melakukan observasi deskriptif sampai akhir pengumpulan data. Hasil observasi dalam penelitian ini, dicatat dalam Catatan Lapangan, sebab Catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Dalam hal ini Moleong (2000:153-154) menegaskan bahwa “peneliti tindakan kelas dapat dikatagorikan penelitian kualitatif yang mengandalkan pengamatan dan wawancara dalam pengumpulan data di lapangan. Pada waktu di lapangan dia harus membuat “catatan”.Dapat dikatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, “jantungnya adalah catatan lapangan”. Catatan lapangan pada penelitian ini bersifat deskriptif. Artinya bahwa catatan lapangan ini berisi gambaran tentang latar pengamatan, orang, tindakan dan pembicaraan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan praktek mengajar (al-tarbiyah al-amaliyah li al-tadris) di Pondok Pesantren Modern “Al-Kautsar” Muncar Banyuwangi. Dalam hal ini Moleong (2000:156) menyatakan bahwa bagian deskripitif berisi beberapa hal, diantaranya adalah gambaran diri fisik, rekonstruksi dialog, deskripsi latar fisik, catatan tantang peristiwa khusus, gambaran kegiatan dan perilaku pengamat.
Format rekaman hasil observasi (pengamatan) catatan lapangan dalam penelitian ini menggunakan format rekaman hasil observasi yang dikembangkan oleh Moleong (2000:154) sebagaimana dituangkan dalam laporan penelitian.

c. Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. Lincoln dan Guba (1985), mengartikan “rekaman” sebagai setiap tulisan atau pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau organisasi dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristewa atau memenuhi accounting.
Beberapa contoh rekaman dalam penelitian tindakan kelas adalah adalah : daftar hadir siswa, nilai ulangan harian, daftar pelanggaran dan lain sebagainya . Transkrip dokumentasi ini dapat dilihat dalam laporan penelitian.


Teknik analisis data
Analisa data adalah proses pelacakan dan pengaturan secara sistematik transkip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat dipresentasikan semuanya kepada orang lain (Bogdan & Biklen, 1982). Selanjutnya Bogdan dan Biklen menjelaskan bahwa analisis data melibatkan pengerjaan organisasi data, pemilahan menjadi satuan-satuan tertentu, sistesis data, pelacakan pola, penemuan hal-hal yang penting dan dipelajari dan penentuan apa yang harus dikemukakan kepada orang lain. Jadi pekerjaan analisis data dalam penelitian adalah bergerak dari penulisan deskripsi kasar catatan observasi, wawancara dan dokumentasi kegiatan selama penelitian. Dalam penelitian data dianalisis pada saat pengumpulan data dan setelah selesai pengumpulan data.

Pertama. Analisis Data Selama Pengumpulan Data
Miles dan Huburmen, (1984) menyebutkan bahwa analisis data selama pengumpulan data membawa peneliti mondar-mandir antara berfikir tentang data yang ada dan mengembangkan strategi untuk mengumpulkan data baru yang biasanya yang lebih baik atau sebaliknya; melakukan koreksi terhadap informasi yang kurang jelas dan mengarahkan analisis yang sedang berjalan berkaitan dengan dampak pembangkitan kerja lapangan.
Ada beberapa langkah yang ditempuh dalam analisis data selama pengumpulan data (dalam PTK) yaitu : lembar rangkuman kontak (contact summary sheet), pembuatan kode-kode, penkodean pola (pattern codding) dan pemberian memo.

Kedua. Analisis Data Setelah Pengumpulan Data
Pada tahap ini peneliti banyak terlibat dalam kegiatan penyajian atau penampilan (display) dari data yang dikumpulkan dan dianalisis sebelumnya. Mengingat bahwa peneliti kualitatif banyak menyusun teks naratif. Display adalah format yang menyajikan informasi secara sistematik kepada pembaca.
Miles dan Hubermen, (1984), memperkenalkan dua macam format, yaitu yang diagram konteks (context chart) dan matriks. Dalam PTK biasanya peneliti menggunakan format diagram konteks.

BAB IV : PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Deskripsi data penelitian
Hasil analisis data
Dalam bagan ini dialakuan analisis data dengan penjelasan tentang bagaimana analisis dilakukan dengan menyebutkan alasannya.
Penafsiran hasil analisis data
Pembahasan, mengulas hasil analisis dalam bentuk paparan kualitatif, tetapi tetap boleh menggunakan data kuantitatif sebagai pendukung dan bahan untuk memperjelas.
Simpulan pengujian hipotesis (jika ada)

BAB IV : PENUTUP
Kesimpulan
Pada bagian ini, peneliti harus membuat kesimpulan yang merupakan rumusan hasil pembuktian terhadap hipotesis dan atau pencapaian tujuan penelitian. Jadi, kesimpulan dibuat berdasarkan tujuan atau hipotesis yang telah dirumuskan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kesimpulan, yaitu: misal dari PTK adalah sebagai berikut.
1. Aktivitas siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri cenderung meningkat (mengerjakan LKS, berdiskusi, dan merespon pertanyaan teman)
2. Keterampilan kooperatif siswa selama proses pembelajaran dengan model Konstruktivistik dapat muncul dan sebagian menunjukkan peningkatan.
3. Prestasi belajar IPS pada materi pelajaran mengalami peningkatan yang signifikan setelah dilaksanakan pembelajaran dengan model konstruktivistik dengan media prangko


Saran
Pada bagian saran ada dua hal yang perlu diungkap, yaitu saran untuk penelitian lebih lanjut dan saran untuk penerapan hasil penelitian. kesimpulan dibuat berdasarkan tujuan atau hipotesis yang telah dirumuskan.

DAFTAR PUSTAKA
Bagian ini pada prinsipnya referensi-referensi apa saja digunakan/diperlukan baik dalam proses maupun secara teori dalam penelitian berlangsung.

LAMPIRAN
Bagian ini berisikan hal-hal yang dapat mendukung dalam penelitian



PERSYARATAN PENULISAN

Naskah karyanya menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dengan tata bahasa dan ejaan yang disempurnakan, sederhana, jelas, satu kesatuan, mengutamakan istilah yang mudah dimengerti, tidak menggunakan singkatan seperti tdk, tsb, yg, dgn, dll, sbb.

PENGETIKAN

1. Tata Letak
a. Karya tulis diketik 1.5 spasi pada kertas berukuran A4 (font 12, Times New Roman).
b. Batas pegetikan
 Samping kiri 4 cm
 Samping kanan 3 cm
 Batas atas dan batas bawah masing-masing 3 cm
c. Jarak pengetikan Bab, Sub-bab dan perinciannya:
1) Jarak pengetikan antara Bab,Sub-bab adalah 3 spasi, sub-bab dan kalimat dibawahnya 2 spasi
2) Judul Bab diketik di tengah-tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 3 cm dari tepi atas tanpa garis bawah
3) Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan tendensi 5 (lima) ketukan dan diberi garis bawah
4) Jika masih ada sub judul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti aturan diatas lalu diikuti oleh kalimat berikutnya

2. Pengetikan Kalimat
Alinea baru diketik sebaris dengan baris diatasnya dengan jarak 2 (dua) spasi

3. Penomoran Halaman
a. Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar kelompok, kata pengantar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah ( i, ii, dan seterusnya)
b. Bagian inti sampai dengan bagian penutup memakai angka Arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 dari tepi atas (1,2,3, dan seterusnya)
c. Nomor halaman pertama dari setiap bab tidak ditulis tetapi diperhitungkan.


DAFTAR PUSTAKA
Adil bin Muhammad Al-Abd, 2010 Melejitkan Potensi Diri,: Elba www.belajarislam.com

Bogdan dan Biklen, 1982. Qualitative Research for Education, An introduction to theory and methods. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Bogdan, 1972. Participant Observation in Organizational Settings, Syracuse, Syracuse University Press.

Lincoln dan Guba, 1985. Naturalistic Inquiry, Bevery Hills: SAGE Publications, Inc.

Lonfland, 1984. Analyzing Social Setting, A Guide to Qualitative Observation and Analysis, Belmont, Cal: Wadsworth Publishing Company.

Miles dan Hubermen, 1984. Qualitative Data Analysis, A. Sourcebook of New Methods, Beverly Hills, Sage Publications.

Moleong, Lexy, 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Patton, 1980. Qualitative Evaluation Methods, Beverly Hills, Sage Publications.

Sonhaji, Ahmad, KH, 1999. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif, (makalah disampaikan pada Seminar kelas Metode Penelitian Kualitatif Program Pasca UNISMA semester III)

Sonhaji, Ahmad KH, 1997. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (makalah disampaikan pada Seminar Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Program Pasca sarjana IKIP Malang tanggal 9 September 1997).

Spradley, J.P. 1980. Participant Observation, New York: Holt, Rinehart and Winston.

Umi proboyekti, 2009 Sistematika loporan karya ilmiah,Universitas Duta Wacana Jogjakarta

Wijaya Kusuma, 2009 Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah.

Rabu, 30 Juni 2010

Baru Perjalanan Cinta

Cinta,,siapa yang tak mengenal kata ini…semua anak manusia yang pernah dan hidup di dunia ini pernah mengalami apa yang nama nya cinta, mulai dari yang namanya ‘cinta monyet’ sampai dengan ‘cinta mati’.

Tapi pernah kah terbersik di benak kita, apa yang sebenar nya makna hakiki dari cinta,…?

Banyak orang telah lama mencoba mendefinisikan apa sebenarnya makna cinta, namun sampai saat ini belum ada di temukan definisi yang satu mengenai makna cinta yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena begitu kompleks nya dan beragamnya pandangan orang terhadap cinta ini sendiri sehingga melahirkan makna makna cinta dari berbagai sudut pandang dan perspektif.

Salah satu nya yang pernah saya baca ‘The Meaning of Love’ tulisan C. armishaw yang mencoba menggambarkan makna cinta sebagai sesuatu yang tak bersyarat,

kebanyakan orang yang mengaku bahwa dia mencintai seseorang sebenarnya tidak benar benar mencintai, karena mereka tidak mengerti apa sebenarnya cinta itu..

mencintai seseorang harus tanpa syarat maksudnya kau mencintai seseorang bagaimana adanya, bagaimana dia sebelum nya dan bagaimana dia nanti di masa akan datang – karena orang pasti berubah seiring berjalan nya waktu, tapi jika kau mencintai orang tersebut, kau akan mencintainya bahkan ketika mereka menjadi sesuatu yang kau tak ingin kan

Kemudian dalam tulisan artikel yang lain hasil survey anak anak berumur 4 sampai 8 tahun yang bercerita tentang cinta…

“Cinta adalah perasaan pertama yang kau rasa sebelum semua hal buruk terjadi”

“Cinta adalah ketika nenek ku mendapat arthritis, sehingga tidak mampu lagi bungkuk menjangkau jari kaki nya dengan tangan, jadi kakek ku melakukan nya untuk nenek bahkan ketika tangan nya mendapat arthritis juga. Itu lah cinta!”

“ketika seseorang mencintai mu, cara dia menyebut nama mu terasa berbeda. Nama mu terasa tenteram di sebut nya”

“cinta adalah ketika seseorang gadis memakai parfum dan seorang laki laki memakai cologne dan mereka keluar bersama dan saling menciumi satu sama lain”

“cinta adalah ketika kau keluar untuk makan dan memberikan seseorang french fries terbaik yang kau punya tanpa mengharapkan dia akan memberikan yang dia punya”

“cinta adalah ketika seseorang menyakiti mu, dan kau merasa sangat marah tapi kau tidak berteriak kepada nya karena kau tahu itu akan menyakiti hati nya”

“cinta adalah apa yang membuat mu tersenyum ketika kau merasa lelah”

“cinta adalah pelukan. Cinta adalah ciuman”

“jika kau ingin belajar untuk mencintai lebih baik, kau seharusnya mulai dari teman mu yang kau benci”

“ketika kau mengatakan pada seseorang sesuatu hal yang buruk tentang diri mu dan kau takut dia tidak akan mencintai mu lagi, tapi kemudian kau mendapat kejutan karena bukan hanya dia masih mencintai mu, dia bahkan makin mencintai mu”

“cinta adalah ketika kau mengatakan pada seorang lelaki bahwa kau suka bajunya, kemudian dia memakai nya setiap hari”

“jika kau ingin seseorang mencintai mu, jadi lah diri mu sendiri. Beberapa orang mencoba untuk meniru orang lain, dan ada lelaki menyukai nya. Aku pikir si lelaki bukan lah orang yang baik jika ia melakukan hal ini kepada mu dan kau seharusnya mencari lelaki lain yang lebih baik”

“kau tidak sungguh sungguh berkata ‘aku mencintai mu’ kecuali kau memaksudkan nya, tapi jika kau memaksudkan nya, kau seharusnya mengatakannya berulang kali”

Makna makna cinta di atas hanya sebagian kecil contoh dari begitu banyak nya makna cinta, karena kalau di tulis semua tak akan cukup waktu untuk menuliskan nya,,,

Bayangkan setiap manusia punya makna cinta sendiri,, jadi kalau penduduk Indonesia yang jumlahnya sekarang 200 juta jiwa maka makna cinta yang ada pun akan sebanyak itu pula..

Cinta,,memang sesuatu yang kompleks, mudah di sebutkan tapi sangat sulit untuk di makna i, meskipun harus memakan waktu sampai bertahun tahun bahkan berpuluh tahun untuk mengungkap makna sebenarnya dari cinta itu sendiri.

Mungkin ini lah yang orang orang sering sebut ‘Misteri Cinta’ dan hanya TUHAN la yang mampu menjawabnya..